Home NASIONAL Jokowi Minta Daerah Percepat Vaksinasi

Jokowi Minta Daerah Percepat Vaksinasi

0
SHARE

JAKARTA-Pertambahan kasus Covid-19 secara nasional semakin tinggi. Menurut laporan Satgas Penanganan Covid-19, kemarin (17/6) pertambahan kasus mencapai 12.624 orang. Presiden Joko Widodo menekankan bahwa herd imunity harus segera tercapai. Di sisi lain, beberapa sudah bersiap menghadapi Idul Adha yang berpotensi memicu mobilitas masyarakat.

Kemarin Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi vaksinasi masal di Bogor. Dalam kesempatan itu, dia menuturkan percepatan vaksinasi. Tujuannya untuk mencapai kekebalan komunal. “Diharapkan Covid ini dapat dihambat dan dihilangkan,” bebernya.
Jokowi mengatakan vaksinasi massal bisa dilakukan. Sasarannya adalah guru, lansia, dan masyarakat rentan. Pelaku pariwisata juga patut diberikan vaksin.

Jokowi meminta adanya percepatan pelaksanaan vaksinasi terutama di daerah dengan tingkat interaksi dan mobilitas masyarakat yang tinggi. “Kita ingin ada percepatan-percepatan di tempat-tempat yang interaksinya tinggi, yang mobilitasnya tinggi, baik itu stasiun kereta, terminal bus, airport, dan juga pelabuhan, karena di situlah kalau tidak kita segerakan akan terjadi penyebaran,” ujarnya. Pelaksanaan vaksinasi di stasiun Bogor, ungkap Presiden, juga dilakukan karena tingginya interaksi dan mobilitas di tempat tersebut.

“Kita tahu Bogor adalah wilayah aglomerasi, penyangga dari Ibu Kota Jakarta, sehingga interaksi, mobilitas semuanya tinggi. Oleh sebab itu, kita ingin memberikan prioritas baik bagi penumpang KRL, kemudian penumpang kereta api, juga para pekerja yang ada di stasiun untuk melindungi mereka dari Covid-19,” ujarnya. Mabes TNI turut mendorong segera tercapainya kekebalan kelompok. Untuk itu, pihaknya berusaha membantu pemerintah agar target vaksinasi satu juta orang per hari terpenuhi. Hal itu disampaikan langsung oleh Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto saat meninjau serbuan vaksinasi di Kabupaten Bandung kemarin.

Dalam agenda yang turut dihadiri oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin tersebut, Hadi menyampaikan bahwa pihaknya bersama Polri telah menggelar seratus titik vaksinasi di seluruh Indonesia. “Harapan kami semua, program vaksinasi nasional satu juta perhari dapat terselenggara dengan baik,” terang dia.

Hadi yakin, dengan kerja keras dan kerja sama di antara semua pihak. Target itu dapat tercapai. Asa tersebut kian besar lantaran dia melihat semakin banyak masyarakat yang sadar untuk mendapat vaksinasi. Kemarin, tidak kurang lima ribu orang divaksinasi dalam serbuan vaksinasi di Kabupaten Bandung. Dengan jumlah penerima vaksinsi yang mencapai ribuan orang di setiap lokasi vaksinasi, dia yakin target satu juta orang per hari segara tercapai. Hadi pun menekankan lagi, setelah vaksinasi dilakukan, masyarakat tetap harus melaksanakan protokol kesehatan dengan baik. “Karena, itulah senjata yang paling ampuh untuk menghindari Covid-19,” bebernya.

Tidak hanya vaksinasi, TNI juga turut berpartisipasi menyiapkan lebih banyak ruang isolasi. Hal itu dilakukan menyikapi meningkatkan grafik pertumbuhan pasien Covid-19 belakangan ini. Salah satu ruang isolasi itu disiapkan oleh TNI AL di Gedung Dolos Pangkalan Marinir Jakarta. Gedung dengan luas bangunan 2.156 meter persigi itu sudah bisa menampung seratus pasien.

Rencananya kapasitas tersebut akan ditambah menjadi dua ratus pasien. “Saya melihat kesiapan Gedung Dolos untuk mengantisipasi lonjakan Covid-19 sudah berjalan dengan baik, dapat dilihat dari sarana dan prasarananya,” ungkap Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Ahmadi Heri Purwono.

Selain Gedung Dolos, Wakasal juga sudah memastikan kesiapan Rumah Sakit TNI AL dr Mintohardjo. Dia sudah meninjau dan melihat langsung sejumlah fasilitas yang disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan pasien Covid-19. Total, ada 130 kasur untuk pasien di rumah sakit itu. “Jika diperlukan ekstra bed silahkan diajukan, sehingga pasien yang merupakan satu keluarga dapat dijadikan satu ruangan,” terang Heri.

Menurut Epidemiolog Masdalina Pane kenaikan kasus kali ini karena ada kelalaian tidak memperhatikan mobilitas dalam kota. Pengetatan mudik memang sudah dilakukan. “Selain itu adanya varian baru yang masuk,” katanya.

Menurutnya, harus ada evaluasi kebijakan adanya perjalanan luar negeri juga. Mengingat keempat varian baru Covid-19 ini berasal dari luar negeri.

Dia memahami bahwa masyarakat ada kelelahan dalam menghadapi pandemi. Namun, dalam menghadapi pandemi ini tak bisa salah satu pihak saja yang jalan. Pemerintah dan masyarakat harus sinergi.

Sementara itu Guru besar FKUI dan mantan Direktur WHO Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama mengatakan penanganan Covid-19 varian Delta di Indonesia saat ini harus maksimal. ’’Bukan hanya optimal,’’ katanya. Dia menjelaskan data dari Kemenkes sampai 13 Juni menyebutkan, ada 107 varian Delta (B.1617.2) yang ada di Indonesia. Kemudian varian Alfa ada 36 kasus dan varian Beta ada lima kasus.

Tjandra mengatakan pemerintah Indonesia harus terus mengikuti perkembangan hasil penelitian tentang varian-varian baru Covid-19 itu. Sehingga bisa mendapatkan kesimpulan yang tepat tentang dampak varian itu, khususnya varian Delta. ’’Yang dapat kita lakukan sekarang adalah melakukan 3M dan 3T serta vaksinasi secara benar-benar maksimal,’’ jelasnya.

Kemudian jumlah pemeriksaan Whole Genome Sequencing juga harus ditingkatkan secara bermakna. Supaya mendapatkan gambaran yang lebih pasti seberapa besar masalah varian Delta yang ada di Indonesia. Termasuk kemungkinan ada varian yang lebih baru lagi hasil mutasi varian Delta di Indonesia. Tjandra mengatakan secara alamiah virus selalu bermutasi.

’’Makin tinggi penularan di masyarakat, maka makin tinggi kemungkinan terjadi mutasi,’’ jelasnya.

Dia lantas membagikan informasi terkini yang dilansir WHO terkait varian Delta tersebut. Diantaranya adalah varian Delta memang terbukti meningkatkan penularan. Kemudian data WHO sampai 8 Juni 2020 menyebutkan bahwa adanya dampak penyakit yang lebih berat dan parah akibat varian Delta masih belum terkonfirmasi. Meskipun begitu ada laporan ke WHO terjadi peningkatan kasus yang harus masuk rawat inap karena varian Delta itu. Kemudian laporan lainnya juga membahas tentang kemungkinan keluhan menjadi lebih berat akibat varian Delta tersebut. (wan/syn/lyn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here