Home TANGERANG HUB Harus Radikal Tangani Covid-19

Harus Radikal Tangani Covid-19

0
SHARE
ZONA MERAH: Satgas Covid memasang spanduk kawasan zona merah di lingkungan RW 11, Kelurahan Gerendeng, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Selasa (22/6). FOTO: Dinas Kominfo

JAKARTA – Dorongan untuk melakukan pembatasan mobilitas guna mengurangi transmisi penularan Covid-19 masih bergulir. Jika rencana ini dijalankan, beberapa pihak memberikan masukan agar ada bantuan untuk masyarakat dan industri. Di sisi lain, pemerintah berupaya untuk memperbanyak tempat isolasi terpusat.

Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) meminta agar ada langkah radikal dalam mengatasi lonjakan kasus Covid-19. Sudah ada 13.668 orang yang terkonfirmasi Covid-19 dengan 24.987 spesimen yang dites PCR. Dengan kata lain positifity rate PCRnya 51,62 persen. “Ada dua pilihan, pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) nasional dan penerapan lockdown regional secara berkala di pulau besar seperi Jawa, Sumatera, dan Kalimantan,” kata Ketua Umum IAKMI Ede Surya Darmawan, kemarin (22/6).

Saran lain dari IAKMI meningkatkan tracing dan percepatan testing sedari dini. Sehingga bisa terdeteksi sebelum memerlukan rawat inap di rumah sakit.

Masyarakat pun harus diberikan kesadaran agar memiliki kesadaran melakukan testing. Selain itu juga menyampaikan informasi dengan benar untuk keperluan tracing dan memampukan isolasi mandiri. “Kuatkan telemedicine dan telemonitoring sebagai dukungan pada masyarakat yang isolasi mandiri,” tuturnya.

Peran dan kapasitas satgas tingkat RT hingga relawan harus diperkuat. Ini untuk menjalankan 3M secara tepat dan tertib. “Pemberian denda atau sanksi bagi masyarakat yang melanggar protokol kesehatan,” ujar Ede.

Sementara itu, Walikota Tangsel Benyamin Davnie membatasi jam operasional pusat perbelanjaan dan pelaku usaha kuliner baik kafe maupun tenda. Semula diperbolehkan buka sampai pukul 21.00 WiB dan kini dibatasi hanya sampai pukul 20.00 WIB.

Hal tersebut dilakukan Pemkot Tangsel karena, seiring meningkatnya kasus Covid-19. Pak Ben mengaku, untuk mengurangi atau mencegah penyebaran covid-19 salah satunya dengan mengurangi jam operasional pusat perbelanjaan hingga restoran.

“Iya kita membatasi dan operasional restoran dan pusat perbelanjaan. Jam dine in saya turunkan jadi jam 20.00 WIB, tadinya jam 21.00 WIB,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (21/6).

Ia menambahkan, pembatasan jam operasional sampai pukul 20.00 WIB juga berlaku untuk layanan pesan antar makanan maupun dibawa pulang (take away). Kebijakan tersebut sudah diatur dalam Surat Edaran Wali Kota Tangerang Selatan Nomor 443/2073/Huk tentang Perpanjangan PPKM Berbasis Mikro.

“Layanan pesan antar, dibawa pulang, diperbolehkan sampai dengan jam operasional restoran berakhir dengan menerapkan protokol kesehatan yang lebih ketat,” jelasnya.

Mantan pegawai Pemkab Tangerang ini menuturkan, jumlah pengunjung di tempat usaha kuliner juga wajib dibatasi maksimal 50 persen dari kapasitas normal. “Khusus pelaku usaha restoran untuk layanan makan ditempat maksimal 50 persen,” ungkapnya.

Wakil Walikota Tangsel dua periode tersebut menuturkan, pengetatan tersebut berlaku selama perpanjangan PPKM berbasis mikro di Kota Tangsel sampai 28 Juni mendatang.

Pemkot juga melarang beberapa kegiatan yang memancing kerumunan masyarakat. Yakni, larangan adanya pesta atau resepsi pernikahan di tengah lonjakan kasus Covid-19. “Saya melarang kegiatan resepsi pernikahan atau kegiatan-kegiatan sosial yang lain,” ungkapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here