SHARE
Pengunjung berada di kereta gantung yang kembali beroperasi di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Selasa (14/9). Kawasan wisata boleh dibuka dengan prokes ketat. FOTO: Fedrik Tarigan/Tangerang Ekspres

JAKARTA-Petunjuk uji coba protokol kesehatan untuk tempat wisata resmi dikeluarkan pemerintah. Hal itu tertuang dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 42 tahun 2021 tentang PPKM di Jawa-Bali.

Salah satu poin yang yang diatur dalam uji coba pembukaan tempat wisata adalah pengaturan jumlah kendaraan pada akhir pekan. Yakni mulai Jumat pukul 12.00 sampai dengan Minggu pukul 18.00 waktu setempat.

“Penerapan ganjil–genap di sepanjang jalan menuju dan dari lokasi tempat wisata,” ujar Tito dalam instruksinya, kemarin (14/9).

Selain itu, ketentuan lainnya adalah wajib menggunakan aplikasi Peduli Lindungi untuk melakukan skrining terhadap semua pengunjung dan pegawai. Kemudian, anak-anak di bawah 12 tahun dilarang untuk memasuki tempat wisata.

Selain itu, menurut Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, nantinya kebijakan ini akan dijalankan dengan aturan prokes ketat.

Kemudian, ada evaluasi yang dilakukan. ”Kita lihat konsekuensinya kalau menimbulkan klaster baru ya kita perketat lagi,” ujarnya, kemarin (14/9).

Evaluasi tersebut akan dibahas dalam penetapan PPKM yang dilakukan tiap minggu. Di mana, tiap evaluasi selalu dilakukan penyesuaian tentang peraturan yang diberlakukan. Tentunya, dengan sejumlah parameter untuk menentukan keadaan di suatu daerah tersebut apa saja yang perlu dibuka atau diperketat kembali.

”Ketentuannya juga tidak generik. Jadi ini akan selalu dinamis sesuai kondisi di lapangan,” papar mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) tersebut.

Muhadjir menekankan, di masa saat ini, yang tak kalah penting ialah mulai dilakukannya adaptasi pada suasana Covid 19 dari yang sifatnya pandemi ke endemi. Diupayakan agar virus SARS CoV-2 berada dalam perilaku yang paling bisa dikendalikan. Misalnya, dibuat agar bersifat sporadis atau penyebarannya tidak merata.

Lalu, diupayakan agar jadi penyakit gejala musiman. ”Karena saya rasa naik turunnya kasus ini juga terkait dengan kondisi iklim, lingkungan, ini sangat berpengaruh. Nanti akan kita pelajari, kita amati,” jelasnya.

Kemudian, yang berhubungan dengan tingkat kesakitan dapat dikendalikan. Termasuk, angka kematian nol. ”Ini akan membuat Covid-19 bukan penyakit istimewa tapi penyakit biasa. Jadi bisa masuk penyakit infeksius seperti yang lain,” sambungnya.

Untuk dapat menyukseskan transisi menuju endemi ini, Muhadjir mengatakan, butuh peran serta masyarakat. Salah satunya, perilaku masyarakat dalam masa pandemi ini. Kesadaran masyarakat dalam menerapkan prokes jadi kunci utama.

Diharapkan, penggunaan masker sudah tak butuh lagi diberi peringatan keras atau sweeping lagi. Namun, jadi bagian dari habitualitas sehari-hari.

”Misalnya kerumunan. Sudah tahu waktunya lebih dari ketentuan, bisa bahaya kalau terlalu lama. Sudah waktunya bubar,” katanya. (far/mia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here