SHARE
Jamaludin, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang

TANGERANG – Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Tangerang belum memberikan sinyal dimulainya Pembelajaran Tatap Muka (PTM) jenjang SD dan TK. Meskipun jenjang SMP sudah mulai secara bertahap.

Kepala Dindik Kota Tangerang Jamaludin mengatakan, SD dan TK belum lengkap syarat untuk menggelar PTM. Akan tetapi, jika kondisi aman untuk SD dan TK bisa dilakukan PTM.

“Kami belum melakukan persiapan untuk SD dan TK, karena saat ini kita fokuskan untuk SMP saja dulu. Selanjutnya baru SD dan TK,”ujarnya, Selasa (14/9).

Jamal menambahkan, untuk memenuhi aturan PTM salah satunya adalah vaksin. Karena siswa SD dan TK belum divaksin. Maka itu, belum bisa SD dan TK menggelar PTM.

“Untuk siswa SMP sudah sebagian divaksin, tetapi karena siswa SD dan TK belum divaksin maka belum bisa digelar PTM. Untuk guru SD saat ini sudah dilakukan vaksin,”paparnya.

Ia menjelaskan, Dindik akan melakukan penilaian untuk siswa yang ingin menggelar PTM. Selain itu, rekomendasi dari Kecamatan juga menjadi dasar untuk menggelar PTM.

“Rencananya SMP, TK dan SD kami gelar PTM. Setelah kami pertimbangkan, hanya 40 SMP saja yang lolos asesmen untuk bisa menggelar PTM. Selebihnya, secara bertahap dilakukan penilaian asesmen,”ungkapnya.

Jamal menuturkan, orangtua SD diminta bersabar jika anaknya belum melakukan PTM, karena pertimbangannya semua siswa harus tetap divaksin. Karena belum ada aturannya maka ditunda sementara.

“Kekhawatiran kita jika siswa SD belum divaksin maka akan ada kasus baru. Dan itu menjadi pertimbangan kita,”katanya.

Sementara itu, Wanda orangtua siswa SDN 5 Tangerang mempertanyakan kenapa SD belum melakukan PTM. Hal tersebut dikarenakan bahwa sudah terlalu jenuh dan pusing dengan soal yang diberikan kepada siswa.

“Kenapa SMP sudah buka, sedangkan SD belum buka. Saya sudah lelah karena soalnya buat saya pusing. Sedangkan kerjaan saya sebagai istri juga banyak dan selalu membuat saya pusing,”katanya.

Wanda meminta, Pemkot Tangerang untuk bisa menggelar PTM walaupun anaknya belum divaksin. Tetapi jika ada penerapan protokol kesehatan maka tidak akan tertular Covid-19.

“Saya bukan tidak khawatir, tetapi jika ini terus dilakukan secara online maka kami orangtua akan repot. Saya juga ingin anak saya vaksin, tetapi belum diperbolehkan,”tutupnya.(ran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here