SHARE
PENGERUKAN: Petugas DPUPR dan DLH Kabupaten Lebak mengeruk sampah dan lumpur pada drainase dalam kota di Kota Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Rabu (15/9). FOTO: Ahmad Fadilah/Banten Ekspres

LEBAK-Pascabanjir yang mengepung sejumlah ruas jalan di Kota Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Selasa (14/9), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Lebak melakukan langkah cepat. DPUPR mengerukan dan menormalisasi gorong-gorong dan saluran air yang tersumbat yang diduga menjadi penyebab banjir.

Kepala Bidang Bina Marga DPUPR Kabupaten Lebak, Hamda Soleh mengatakan untuk jangka pendek, pihaknya akan mengeruk saluran air karena terjadinya pendangkalan.

“Iya kita menduga banjir dalam kota ini akibat adanya penyumbatan oleh sampah, juga pendangkalan. Untuk itu, kita akan lakukan pengerukan lumpur yang mengendap,” katanya kepada Banten Ekspres di ruang kerjanya, Rabu (15/9).

Menurut Hamdan, DPUPR bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak dari awal banjir pada Selasa, telah menyedot genangan air menggunakan mesin pompa penyedot.

“Alhamdulillah dengan mesin pompa penyedot ini, mempercepat surut genangan banjir di beberapa titik,” ujarnya.

Ia mengatakan selain penyumbatan dan pendangkalan saluran air, banjir juga disebabkan oleh banyaknya bangunan atau gedung yang menutup saluran air. Bahkan juga ada alih fungsi lahan di kota yang semakin memperparah keadaan.

“Memang banyak faktor, kita juga melihat kesadaran masyarakat dalam membuang sampah masih rendah, karena hampir 60 persen penyumbatan drainase ini akibat sampah,” papar Hamdan.

Untuk jangka panjang, kata dia, drainase dalam kota harus dinormalisasi secara menyeluruh. Terutama drainase di titik-titik yang menjadi langganan banjir.

“Iya kita akan konsen terhadap masalah banjir dalam kota ini,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lebak, Febby Rizky Pratama mencatat banjir yang terjadi telah merendam 1.273 rumah dan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit.

“Berdasarkan perhitungan, kerugian diperkirakan sekitar Rp 4,8 miliar dan sudah kita laporkan kepada pemerintah daerah,” paparnya.

Kerugian itu dihitung dengan melihat bagaimana kerusakan infrastruktur dan kerusakan peralatan rumah tangga yang terendam banjir. Namun, kerugian terbesar didominasi oleh aktivitas ekonomi yang lumpuh akibat banjir.

“Seperti warga tidak bisa bekerja karena banjir dan aktivitas ekonomi lainnya yang berhenti atau tidak bisa dilakukan karena dampak banjir tersebut,” ungkapnya.

Menurut Febby, dari kemarin (Selasa), pihaknya bersama DPUPR dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lebak bergerak membersihkan sampah di drainase yang menjadi salah satu faktor pemicu banjir. (mg-5/tnt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here