SHARE
KESEHATAN: Salah seorang dokter tengah melakukan pemeriksaan psikologis kepada warga binaan Lapas Kelas 1 Tangerang, Kamis (16/9). FOTO: Abdul Azis/Tangerang Ekspres

TANGERANG- Kebakaran hebat Lapas Klas 1 Tangerang berdampak pada psikologis warga binaan. Mereka mengaku trauma bahkan sulit tidur pasca peristiwa tersebut. Rasa takut masih terus menghantui.

Salah seorang warga binaan berinisial H menuturkan, kejadian kebakaran masih teringat terus di pikirannya. Bahkan saat malam tiba rasa takut itu sering muncul hingga ia sulit tidur. Terlebih, salah satu korban meninggal yang merupakan temannya juga.

“Mungkin karena saya kepikiran dan mengingat-ngingat dia, jadi saya merasa dia datang ke saya. Saya lebih ke ingin suasana yang ramai, tidak mau sepi,” tuturnya.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang melakukan trauma healing untuk warga binaan pasca kejadian. Pelayanan kesehatan jiwa ini diikuti puluhan peserta terutama penghuni Blok C yang mengalami langsung kejadian kebakaran.

dr Indri Bevy, Kepala Bidang P2P Dinkes Kota Tangerang mengungkapkan, program trauma healing bersama RSUD Kota Tangerang dan Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI). Trauma Healing saat ini difokuskan kepada para warga binaan dilanjutkan ke petugas yang berjaga saat kejadian.

Ia menjelaskan, sejak hari kedua insiden kebakaran terjadi, tim Dinkes sudah turun untuk melakukan pendekatan, penenangan dan pendalaman terkait sejauh apa gangguan psikis atau mental yang dialami warga binaan.

“Sebelum bertemu dokter, Dinkes telah menyebar kuesioner dengan 29 poin pertanyaan. Hasilnya, baru ditentukan mereka membutuhkan penanganan psikiater atau psikolog dengan berbagai status traumanya,” papar dr Bevy.

Kabid Pelayanan Medis dan Keperawatan, RSUD Kota Tangerang, dr Amir Ali mengungkapkan hasil kuesioner para warga binaan banyak yang mengalami kecemasan dan kesulitan tidur. “Maka, pada trauma healing ini belasan dokter psikiater dan psikolog diturunkan. Melakukan terapi kejiwaan dan terapi pengobatan,” ungkap dr Amir.

Pada proses terapi, kata dr Amir dilakukan secara person to person sehingga sampai saat ini baru sekitar 83 orang yang ditangani. “Angka ini masih akan terus bertambah. Jika trauma healing seperti ini tidak dilakukan dapat mengalami kecemasan yang lebih dalam atau depresi,” katanya.

Lanjutnya, jika trauma healing ini selesai terapi rutin akan dilanjutkan jajaran dokter Kemenkumham. “Kami Dinkes dan pihak RSUD bersiap untuk kesiapan obat-obatan dan menerima yang sekiranya membutuhkan penanganan rujukan,” tegas dr Amir. (raf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here