Home TANGERANG HUB Terbebas dari Zona Merah, Mobilitas Warga Menyamai Sebelum Pandemi

Terbebas dari Zona Merah, Mobilitas Warga Menyamai Sebelum Pandemi

65
0
SHARE

JAKARTA-Peta Resiko penyebaran Covid-19 di laman resmi Satgas covid19.go.id menunjukkan bahwa 34 provinsi di Indonesia telah bersih dari zona merah atau zona resiko penyebaran tinggi kemarin (22/9).

Hanya tersisa beberapa zona oranye dan zona hijau. Sementara sebagian besar tengah berada di zona resiko rendah yakni kuning. Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan bahwa berdasarkan analisis data per 19 September lalu, memang sudah tidak ada kabupaten/kota yang berzona merah di Indonesia.

Wiku menghimbau, pencapaian ini harus direspon dengan semangat untuk konsisten mempertahankan kondisi yang terkendali ini. Masyarakat juga bukan berarti patut lengah dengan kondisi yang sudah terkendali

”Karena sedikit saja lengah dalam hitungan minggu saja status zonasi bisa berubah,” jelas Wiku pada Jawa Pos kemarin (22/9). Berdasarkan data Satgas Covid-19, pertambahan kasus konfirmasi positif harian telah jatuh di bawah angka 5 ribuan per hari-nya sejak tanggal 12 September 2021 lalu. Angka kasus aktif kini tersisa 49 ribuan atau 1,2 persen. Sementara prosentase kesembuhan naik ke angka 95,5 persen.

Disisi lain, pelonggaran aktivitas masyarakat oleh pemerintah memicu peningkatan mobilitas. Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate mengatakan bahwa berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sejak tanggal 2 Agustus 2021 telah terjadi peningkatan mobilitas masyarakat di Indonesia. Bahkan, saat ini mobilitas masyarakat, khususnya di Jawa dan Bali, telah meningkat secara signifikan.

Data tersebut juga sejalan dengan laporan WHO yang dirilis pada 15 September 2021. Laporan tersebut menyatakan bahwa sepekan terakhir mobilitas masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten, mengalami peningkatan signifikan.

“Peningkatan mobilitas yang saat ini bahkan sudah menyamai kondisi sebelum pandemi,” sebut Plate. Oleh karena itu, meskipun level PPKM tengah turun, pemerintah masih terus memperkuat penerapan aturan perjalanan domestik dan internasional. Hal ini dilakukan beriringan dengan penguatan pengawasan di pintu-pintu masuk internasional ke Indonesia.
Selain itu Johnny menyebut pemerintah terus menambah alokasi vaksin di daerah dengan kasus dan mobilitas tinggi. Hal ini diiringi dengan penambahan tempat sentra vaksinasi, pemberlakuan syarat kartu vaksin untuk pelaku perjalanan dan penggunaan fasilitas publik, dan percepatan vaksinasi pada kelompok rentan, lansia, dan orang dengan komorbid.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengingatkan pemerintah dan semua pihak untuk tidak terlena kenaikan kasus dan penurunan level PPKM. Memang ia mengakui jika PPKM telah efektif dalam menurunkan kasus. Namun efektivitas PPKM tidak bisa di generalisasi. Terutama jika berbicara daerah luar Jawa Bali yang secara rekam jejak 3T nya lemah.

Dicky mengatakan, penurunan kasus harus dilihat terlebih dahulu apakah penurunan tersebut sudah sustain atau stabil dengan melihat lamanya waktu tren penurunan kasus tersebut. “Jika baru turun selama dua minggu, saya tidak merekomendasikan untuk dilonggarkan. Sebaiknya tunggu 1 bulan, dilihat apakah naik turun, atau stabil atau turun,” jelasnya. (jpg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here