SHARE
JUAL BELI: Sejumlah warga melakukan aktivitas jual beli di Taman Sari, Kota Serang, belum lama ini. FOTO: Syirojul Umam/Banten Ekspres

SERANG-Pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) di Taman Sari oleh Pemkot Serang dianggap merugikan pedagang di sekitarnya. Pasalnya, pedagang dipaksa segera pindah tanpa memberikan fasilitas di pasar yang akan ditempati.

Seorang pedagang di Taman Sari, Iis mengatakan bahwa dirinya keberatan dengan langkah Pmekot Serang yang terburu-buru memaksa pedagang segera pindah dari Taman Sari. Sementara pihaknya tidak diberikan fasilitas untuk tempat baru.

“Bukan kami menolak, kami ini hanya orang kecil yang juga butuh diperhatikan. Jangan seenaknya saja memindahkan kami tanpa memikirkan ke depannya bagaimana,” katanya kepada wartawan, Rabu (6/10).

Seharusnya, Pemkot Serang memberikan tenggat waktu yang cukup lama kepada para pedagang untuk mengosongkan Taman Sari. “Iya, harusnya kan ada pengumuman sejak jauh-jauh hari, ini mah dikasih selebaran, tanggal 7 Oktober peringatan pertama, tanggal 10 Oktober peringatan kedua, terus tanggal 13 Oktober harus sudah kosong semua. Sedangkan kami dikasihnya baru sekitar dua minggu kurang,” ujarnya.

Maka dari itu, ia meminta agar Pemkot Serang menunda pembangunan RTH di Taman Sari. Sehingga para pedagang bisa mempersiapkan tempat atau hal-hal lainnya untuk perpindahan jualan mereka. “Namanya di tempat baru, itu pasti akan keluar biaya lebih besar lagi. Kami kan harus memikirkan itu,” terangnya.

Sementara ia juga menentang bila harus dipindahkan ke eks Pasar Kepandean dan Pasar Lama. Sebab dua tempat tersebut dinilai tidak dimungkinkan untuk berjualan. Salah satunya karena sepi pembeli dan jauh dari permukiman. “Kalau di Kepandean, saya mundur dan memilih tidak berjualan,” tuturnya.

Pedagang lainnya, Ansori mengatakan dirinya belum menerima surat resmi pembongkaran lapak pedagang. “Katanya hari ini terakhir berjualan, besok pengosongan, tapi sampai sekarang belum ada surat resmi hanya baru secara lisan doang,” katanya.

Ia menuturkan dalam pembongkaran ini, pihaknya tidak diberikan uang ganti rugi. Padahal dirinya sudah berjualan hingga 4 tahun serta membeli kios seharag Rp 15 juta. “Kalau harus dipindah dan tidak diberi uang ganti rugi saya harus bagaimana untuk jualan nanti,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Ansori juga keberatan bila harus dipindahkan ke eks Pasar Kepandean. “Soalnya di sana sepi, jauh dari permukiman warga, nanti siapa yang mau beli. Apalagi Corona kayak gini, susah jual ayam potong. Sekarang saja paling laku 10 kilo, tujuh kilo,” jelasnya.

Sebelumnya, Sekretaris DLH Kota Serang, Roni Yurani mengatakan pihaknya melakukan pembangunan sesuai dengan program dan perencanaan RTH di Taman Sari yang mulai dikerjakan pada 10 Oktober 2021. Sementara pembangunan RTH ini akan menelan biaya Rp 2,6 miliar.

“Kami anggarkan untuk pembangunan RTH itu sebesar Rp 2,6 miliar tahun ini dari APBD Kota Serang, dan ditarget selesai tahun ini juga,” katanya.

Ia menjelaskan fasilitas pada RTH yang akan dibangun tersebut ada beberapa sarana publik, seperti taman bermain, panggung serbaguna, dan sejumlah stand kuliner di dalam area Taman Sari. “Tapi memang lebih banyak kepada taman walaupun di dalamnya ada panggung untuk kegiatan-kegiatan, panggung hiburan rakyat, kami siapkan semuanya,” ujarnya. (mam/tnt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here