SHARE

LIFTER Banten juara dunia junior Rizki Juniansyah menunjukkan superioritas di PON XX Papua. Di kelas 73 kg cabor angkat besi, pria berusia 18 tahun itu tidak hanya meraih medali emas. Namun angkatan yang diraihnya juga mengalahkan lifter juara ketiga Olimpiade Tokyo 2020 Rahmat Erwin Abdulah yang tampil di kelas 81 kg.

Penampilan Rizki di Auditorium Universitas Cenderawasih, Kota Jayapura, Kamis (7/10) cukup membuat penonton yang hadir terkesima.

Dalam pertandingan ini Rizki unggul jauh atas dua lawannya, Edi Kurniawan asal Kalimantan Timur dan Misbahul Munir asal Papua.

Lifter Banten Rizki Juniansyah memakai ikat kepala khas suku Baduy saat menerima medali emas.

Rizki berhasil mengangkat angkatan snacth 152 kg sedangkan untuk clean and jerk 191 kg. Total angkatan yang diraih 343 kg.
Catatan angkatan pemegang rekor dunia angkat besi remaja dan junior ini selisih 25 kg dengan Edi Kurniawan di snatch dan 34 kg di angkatan clean and jerk.

Edi hanya mampu mengangkat angkatan snacth 127 kg serta clean and jerk 157 kg, sehingga total angkatan Edi adalah 284 kg. Sementara Misbahul Munir yang hanya mampu mengankat 128 kg di nomor snacth dan 155 kg di nomor clean and jerk.
Pada kelas 73 kg yang hanya diikuti 3 kontestan, membuat Rizki berhak meraih medali emas dan Edi perak.

Sementara Misbahul tidak berhak mendapat perunggu. “Aturan dari PABSI dan PB PON seperti itu, saya juga tidak tahu kenapa kelasnya Rizki sepi peminat. Padahal saat kualifikasi PON 2019 yang lolos itu ada 6 atlet. Tapi saat PON banyak yang pindah kelas, seperti Erwin Abdullah yang naik ke kelas 81 kg dan Triyatno turun kelas ke 67 kg,” beber Muhammad Yasin, Pelatih Angkat Besi Banten.

Uniknya pada pertandingan kemarin Rizki selalu berusaha mengalahkan capaian lifter Sulawesi Selatan Erwin Abdullah dalam hal angkatan. Rizki yang urutan angkatannya berdampingan dengan Erwin Abdullah di kelas 81 kg berusaha melampaui lifter peraih perunggu olimpiade kelas 73 kg tersebut.
Hasilnya Rizky mampu melampauinya.

Di nomor snacth lifter asal Kota Serang itu mampu mengangkat 152 kg, melebihi angkatan Erwin di angka 150 kg. Demikian juga di nomor clean and jerk, Rizki yang mengangkat 191 kg unggul dari Erwin dengan angkatan 190.

“Semangat Rizki luar biasa, padahal dia belum pulih dari penanganan cedera bahu saat latihan di pelatnas. Dia mampu mencatat yang terbaik di PON,” ucap Yasin.

Sementara itu usai menjalani tes doping, Rizki merasa gembira target meraih emas di PON Papua berhasil diwujudkan. Keberhasilan ini buah kerja kerasnya berlatih selama berbulan-bulan sebelum berangkat ke Papua.

“Saya bergembira target saya setelah meraih juara dunia junior untuk mendapatkan emas PON Papua terwujud. Saya persembahkan kemenangan ini untuk keluarga tercinta serta warga Banten dan pemerintah Banten yang berulang tahun,” katanya.

Ia mengatakan meski total angkatan pesaingnya masih di bawah catatan yang dimiliki, namun diakui persaingan di PON ketat sebab rivalnya berupaya untuk melakukan angkatan yang bagus. Namun akhirnya ia berhak atas juara pertama setelah angkatannya tidak bisa disaingi oleh atlet lainnya.

“Saya fokus dan konsentrasi untuk meraih emas. Saya gembira angkatan yang torehkan tidak bisa diikuti atlet lainnya,” imbuhnya. (wis/apw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here