Home HUKUM Sidang Kasus Dugaan Gadis dibawah Umur Disetubuhi Ayah Tirinya Ditunda

Sidang Kasus Dugaan Gadis dibawah Umur Disetubuhi Ayah Tirinya Ditunda

0
SHARE

TANGERANG – Pengadilan Negeri (PN) Tangerang menunda sidang perdana dugaan kasus asusila yang dilakukan ayah tiri yakni Rahmat Bin Mahad Sumitra yang menodai anak tirinya. Alasan penundaan ini Majelis hakim yang dipimpin Arif Budi Cahyono, Jaksa penuntut umum tidak bisa menghadirkan terdakwa Rahmat lantaran dalam kondisi sakit.

“Sidang hari ini ditunda, karena JPU tidak bisa menghadirkan terdakwa. Kita jadwalkan kembali nanti tanggal 19 Oktober mendatang,” ujar Arief, Selasa (12/10).

Nampak, dalam ruang persidang itu dihadiri oleh jajaran Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Tangerang Selatan, kuasa hukum, ayah dan ibu kandung dari pihak korban. Sedangkan, dari pihak terdakwa hanya dihadiri oleh kuasa hukumnya.

Kuasa hukum korban yang difasilitasi P2TP2A Kota Tangsel, Muhammad Rizki Firdaus mengatakan, R pelaku pemerkosaan terhadap anak tirinya ini dinyatakan sakit parah, yaitu penyakit Hepatitis B stadium 4 oleh pihak aparat penegak hukum. Namun pihaknya akan melakukan penelusuran secara ilmiah terkait terdakwa yang dinyatakan sakit itu Karena selama ini, kata Rizki, saat proses penyelidikan, pihak pelapor maupun korban tidak mendapatkan kejelasan terkait tersangka dalam kondisi sakit.

“Kami pun baru dapat informasi sekitar satu minggu yang lalu. Kami dapet info dari kejaksaan yang hanya diperlihatkan surat keterangan sakitnya, tidak diberikan salinannya,” ungkap Firdaus saat ditemui Tangerang Ekspres, di pelataran Kantor Pengadilan Negeri Tangerang, Selasa (12/10).

Rizki menyangkan hal ini. Pasalnya, sidang tersebut telah ditunggu-tunggu sejak lama. Betapa tidak, sejak dilaporkan pada Oktober 2020 lalu, kasus ini baru disidangkan pada Oktober 2021 ini.

“Kasus ini sempat mandek hampir 1 Tahun hari ini sidang perdana tapi ditunda karena alasan terdakwa sakit,” ujarnya.

Rizki mengakui kalau secara regulasi bila terdakwa sakit maka sidang dapat ditunda. Namun, Rizki merasa ragu dengan alasan tersebut. Sehingga, dia berencana menelusi penyakit yang diderita oleh terdakwa.

“Kita mau telusuri soal terdakwa yang dinyatakan sakit. Karena saat proses penyelidikan pelapor maupun korban ini tidak pernah mendapatkan informasi soal sakitnya apa secara ilmiah,” katanya.

Rizki meminta aparat penegak hukum (APH) tidak main-main dalam kasus ini. Pasalnya, kasus pemerkosaan anak ini termasuk dalam kejahatan luar biasa. Diketahui korban saat ini berusia 13 Tahun.

“Poinnya adalah ini ekstra ordinary crime. Kejahatan luar biasa dan undang-undang perlindungan anak sudah terbit tahun 2016 Dan ancamannya itu tambah satu per tiga 3 jadi kalo bisa kita kalkulasikan ini 20 tahun,” tegasnya.

Selain hukuman 20 Tahun penjara, lanjut Rizki, tambahan hukuman lanjutannya. ditambah Peraturan Pemerintah tentang kebiri.

“Ini kan undang-undang yang baru dengan peraturan pemerintah yang baru,” tambahnya.

Dia berharap terdakwa dapat dihukum dengan adil sesuai Undang-Undang yang berlaku.

“Kembali lagi kalau anak-anak anda yang mengalami kasus seperti ini. Dan ini kan kasus kemanusiaan,” tegasnya.

Hal senada diungkapkan oleh ayah kandung korban berinisial P. Perasaan kecewa dirasakan P lantaran penanganan kasus dugaan pencabulan ini sempat mandek dan persidangan ini sudah dia tunggu sejak lama. Dia menuntut keadilan kepada majelis hakim.

“Saya ingin yang terbaik untuk anak saya, saya minta keadilan gitu. Semua pihak untuk perhatikan kasus ini. Kasus ini bisa terjadi dimana saja dan kepada siapa saja,” tandas P yang datang dari Bandung ingin menghadiri persidangan putrinya yang masih belia itu.

Diberitakan sebelumnya, kasus dugaan pemerkosaan yang menimpa gadis belia berusia 13 tahun yang digagahi ayah tirinya, Rahmat yang merupakan warga Kota Tangerang Selatan. Rahmat seorang pengusaha alat kesehatan juga memiliki rumah di kawasan perumahan elit di wilayah Kota Tangerang. Rahmat menodai anak tirinya sebanyak 10 kali. Beberapa kali Rahmat menodai anak tirinya itu dirumahnya yang berlokasi di kawasan perumahan elit di Kota Tangerang. Rahmat juga sempat membawa korban ke sebuah hotel untuk memuaskan nafsu bejatnya itu. Aksi bejat Rahmat itu dilakukan pada medio September 2019 hingga Oktober 2020.

Ibu korban yang mengetahui anaknya disetubuhi itu langsung melaporkan kejadian ini ke Polres Metro Tangerang Kota pada 21 Oktober 2020 lalu. Dengan tanda bukti lapor nomor : TBL/B/907/X/2020/PMJ/ Restro Tangerang Kota. Tindak pidana yang dilaporkan yakni persetubuhan atau pencabulan anak dibawah umur anak. Pasal 81 dan atau 82 UU RI No.35 tahun 2014 tentang perlindungan anak. (raf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here