SHARE
Setelah mal, sekolah yang menggelar PTM wajib memasang barcode aplikasi Lindingupeduli.

KOTA TANGERANG-Meski ditemukan puluhan siswa SMP yang terkonfirmasi positif Covid, tidak menjadi klaster. Meski terpapar, puluhan siswa itu tidak mengalami gejala. Untuk mendeteksi sebaran virus Corona Dinas Kesehatan Kota Tangerang akan menggelar tes acak di 48 SMP negeri dan swasta. Testing masif di sekolah ini sudah masuk tahap tiga.

Walikota Tangerang Arief R. Wismansyah pada tes pertama Senin lalu, dilakukan di 5 sekolah. “Dari 5 sekolah dengan 215 sampel yang diambil, hasilnya semua negatif,” ungkapnya, Selasa (12/10).

Arief tak mau terjadi penularan masif. Ia menginstruksikan dinkes untuk melakukan tes acak di 48 sekolah.

“Selama sepekan ini dinas kesehatan akan gencar melakukan testing di 48 SMP dari 120 SMP,” lanjutnya.

Upaya antisipasi penularan melalui tes acak ini telah dilakukan sebanyak tiga tahap di 140 SMP, dari total 200 SMP yang melakukan PTM terbatas. Sebanyak 48 sekolah kini tengah dilakukan tes acak mulai 11-16 Oktober.

Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Tangerang mengharuskan barcode aplikasi PeduliLindungi dipasang di SMP yang menggelar pembelajaran tatap muka (PTM).
Guru, siswa dan staf tata usaha dan petugas sekolah wajib scan barcode saat masuk ke lingkungan sekolah.

Hal tersebut, berdasarkan arahan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Jamaludin mengatakan, saat ini sekolah yang menggelar PTM terbatas harus menggunakan aplikasi PeduliLindungi. Hal tersebut berlaku kepada siswa dan guru yang akan masuk kedalam kelas.

“Jadi, siswa dan guru-guru ketika dia masuk harus scan barcode PeduliLindungi dan itu untuk mengetahui status vaksinnya. Itu salah satu antisipasi agar tidak terjadi penyebaran Covid-19,”ujarnya saat ditemui Tangerang Ekspres di Puspemkot Tangerang, Selasa (12/10).

Jamal menambahkan, bagi yang tidak memiliki aplikasi tersebut, para siswa tetap diperbolahkan masuk dengan persyaratan yang lainnya. Artinya, siswa dan guru tidak perlu khawatir jika tidak mempunyai aplikasi.

“Kalau mereka belum punya handphone atau tidak ada aplikasi, boleh masuk. Tetapi kita cek secara manual bahwa dia sudah vaksin atau belum,”paparnya.

Ia menjelaskan, penyediaan aplikasi peduliLindungi juga harus ada laporan terlebih dahulu. Ia sedang mengajukan ke Dinas Kominfo Kota Tangerang untuk dilakukan verifikasi barcode. Agar nantinya, scan barcode tersebut bisa ditempelkan di depan pintu masuk sekolah.

“Nanti pihak sekolah diusulkan dulu ke dinas pendidikan, setelah itu kita usulkan ke dinas kominfo baru dipasang barcode-nya. Tetapi, semua sekolah sudah dinfokan,”ungkapnya.

Jamal menuturkan, saat ini vaksin untuk siswa sekolah sudah 50 persen. Dari 178 ribu siswa, sudah 90 ribu siswa yang menerima vaksin.

“Vaksin untuk pelajar terus berjalan, bahkan sudah setengahnya. Dan kita terus upayakan para siswa mendapat vaksin, agar bisa menggelar PTM dan juga mencapai herd immunity,”tutupnya. (ran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here