SHARE
Tim Polda Metro Jaya menyita komputer dari kantor pinjol di kawasan Ruko Crown Blok C1-7 Green Lake City, Cipondoh, Kota Tangerang, Kamis (14/10). FOTO: Abdul Azis Muslim/Tangerang Ekspres

KOTA TANGERANG–Polda Metro Jaya menggerebek kantor pengelola pinjaman online (pinjol) di kawasan Ruko Crown Blok C1-7 Green Lake City, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Kamis (14/10).

Sebanyak 32 orang karyawan berikut komputer diamankan polisi. Kantor pinjol tersebut sudah beroperasi sejak 2018.

“Hari ini (kemarin) kami melakukan penggerebekan di PT ITN. Di ruko ini terdapat 13 aplikasi pinjol. Tiga legal dan 10 ilegal. Penggerebekan di Green Lake City ini instruksi dari Pak Kapolri. Ada satu kegiatan penyelenggaran Fintech P2P landing atau pinjol. Di mana pada masa pandemi ini merugikan masyarakat dan sangat meresahkan masyarakat,” ungkap Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Kombes Polisi Yusri Yunus yang didampingi Dirkrimsus Kombespol Auliansyah Lubis, di pelataran Ruko Crown Blok C1-7, Green Lake City, Cipondoh.

Kantor pinjol PT ITN ini menyewa tujuh ruko berlantai empat. Usai menggerebek, polisi menyegel tujuh ruko tersebut dengan memasang garis polisi. Yusri mengatakan, dari hasil penggerebekan pihaknya mengamankan 32 orang yang berada di dalam ruko berlantai empat itu. Diduga puluhan orang tersebut berperan sebagai tim analisis, telemarketing, dan penagih utang termasuk manajer perusahaan.

“Ada dua jenis penagihan di sini. Ada yang langsung dengan pengancaman. Kedua melakukan penagihan melalui media sosial atau telepon. Di media sosial kami temukan ancaman dengan gambar pornografi kepada para peminjam sehingga membuat stres kepada korban, memaksa untuk membayar,” kata Yusri.

Sebanyak 32 orang dibawa ke Polda Metro Jaya menggunakan bus. Yusri mengatakan akan melakukan pemeriksaan dan pendalaman terkait kasus tersebut. Menurutnya ada beberapa korban yang sempat stres karena cara penagihan dilakukan dengan mengancam secara langsung maupun via telpon dan jejaring media sosial.

“Ini yang dilakukan penindakan. Karena memang kita ketahui sudah meresahkan masyarakat,” ujarnya.

Yusri menuturkan, perusahaan pinjol dan rekanannya sebagai pihak debt collector itu yakni PT INT yang menjalankan bisnis rentenir itu berdiri sejak 2018 lalu.
Awalnya fintech tersebut melakukan penawaran yang bagus, tetapi sebenarnya menjerumuskan masyarakat. “Hal ini akan kita edukasi kepada masyarakat,” ungkapnya.

Lanjut Yusri, tim krimsus Polda Metro Jaya melakukan kegiatan patroli media siber untuk menjaring pelaku bisnis rentenir tersebut. Pihaknya akan melakukan penegakan hukum secara tegas. Pihaknya akan menjerat dengan Undang-Undang (UU) Perlindungan Konsumen, UU ITE, UU Perdagangan serta UU Pornografi.

“Pak Kapolri sudah menyampaikan, ada tiga kegiatan preventif dan penegakan hukum yang harus kita lakukan secara tegas. Preventifnya kita edukasi kepada masyarakat bahwa di masa pandemi ini jangan sampai tergiur tawaran fintech ini,” tandasnya.

Bahkan, masih kata Yusri, Kaploda Metro Jaya memerintahkan untuk membentuk tim yang dipimpin Krimsus. “Jadi kami akan menerima loporan dari masyarakat terkait pinjol,” ujarnya.

Yusri menambahkan, pihaknya akan terus melakukan penelusuran dan akan melakukan koordinasi dengan stakeholder terkait melaukan pemblokiran aplikasi-aplikasi yang meresahkan masyarakat itu.

“Kami akan berkoordinasi dengan kominfo. Bagaimana kelanjutannya, nanti kita akan update kepada teman-teman semua. Termasuk temuan dari Polres Jakarta Pusat, yang jelas kami akan tindak tegas para pelaku-pelaku semua ini.

Sebelumnya, Polres Metro Jakarta Pusat menggerebek Kantor pinjol di Ruko Sedayu Square blok H 36, Cengkareng, Jakarta Barat pada Rabu (13/10). Sebanyak 56 orang digelandang ke polres.

Polisi menyita 52 CPU, namun belum ada tersangka dari 56 orang yang diamankan itu. (raf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here