SHARE
Puluhan karyawan di kantor pinjol tengah bekerja saat Polda Metro Jaya melakukan penggerebekan.

KOTA TANGERANG–Nasabah pinjaman online (pinjol) kerap diteror. Si penagih utang itu, menelepon nasabah yang telat bayar utang dengan kata-kata kasar. Teror dilakukan berkali-kali sampai nasabah itu mau melunasi utang.

Irjen Pol Fadil Imran, Kapolda Metro Jaya

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran meminta jajaran Satreskrim Polres Metro Tangerang Kota bergerak cepat menindak lanjuti laporan warga yang menjadi korban teror pinjol.

“Saya minta dalam jangka satu minggu, laporan masyarakat harus diproses. Beritahu proses penyidikanya. Kasus pinjol harus diungkap, karena sangat meresahkan masyarakat,” tegasnya usai meresmikan rumah dinas Polri di Karawaci, Kota Tangerang, Kamis (14/10).

Ia menegaskan cara kerja penagih utang pinjol telah membuat resah masyarakat. Mereka, meneror para nasabahnya ataupun orang lain yang berhubungan dengan nasabah, dengan cara kasar dan meresahkan.

Menurut Fadil, hadirnya pinjol banyak kasus ancaman dari kolektor pinjol. Bahkan ada yang nekad bunuh diri tak kuat diteror akibat bunga yang besar dan juga ancaman penagih utang.

Fadil mengatakan, laporan mengenai pinjol yang meresahkan di masyarakat masuk ke Polda Metro Jaya sangat banyak. Bahkan di seluruh wilayah hukum Polda Metro Jaya banyak masyarakat yang mengaku diancam oleh debt colector pinjol.

“Para kolektor ini meretas data nasabah, bahkan orang yang tidak meminjam juga ikut diancam. Dan ini harus ditindak agar perusahaan pinjol ilegal ini tidak membuat resah,”paparnya.

Ia menjelaskan, laporan masyarakat kebanyakan adalah masalah bunga yang sangat besar. Sehingga masyarakat yang terlilit utang pinjol tidak sanggup membayar.

“Misalnya pinjam Rp 1 juta, tetapi karena telat bayar akhirnya bunganya besar dan peminjam tidak bisa bayar. Tugas kolektor ini menagih. Tetapi mereka kasar dan mengancam para nasabah,”ungkapnya.

Sementara itu, Dendi Santoso salah satu korban pinjol menuturkan, setiap hari ada penagih utang yang menelepon dengan nada mengancam. Padahal, yang pinjam adalah temannya. Tetapi yang diancam dirinya.

“Temen saya pinjam uang di salah satu aplikasi, karena telat bayar saya jadi korban, ditelpon dan diancam. Padahal, saya sudah jelaskan bukan saya yang pinjam uang, tetapi mereka tidak mau tahu,” tuturnya. (ran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here