SHARE
Kapolresta Tangerang Kombespol Wahyu Sri Bintoro (tengah) duduk bareng bersama masa aksi dari mahasiswa dan menandatangani perjanjian untuk siap mengundurkan diri sebagai kapolres bila terjadi kembali aksi kekerasan yang dilakukan oleh polisi, Jumat (15/10).

TIGARAKSA–Kapolda Banten dan Kapolresta Tangerang sudah meminta maaf secara terbuka, atas kekerasan yang dilakukan oknum Brigadir NP kepada Muhamad Faris Amrullah. Faris dibanting oleh NP saat demonstrasi di HUT Kabupaten Tangerang ke 389 Tahun, Rabu (13/10). NP kini ditahan di Polda Banten untuk pemeriksaan lebih lanjut. Namun, para mahasiswa merasa tindakan itu belum cukup.

Jumat (15/10) ratusan mahasiswa dari berbagai elemen menggelar demonstrasi di Mapolresta Tangerang, di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Mereka menuntut Kapolresta Tangerang Kombespol Wahyu Sri Bintoro dicopot dari jabatannya. Di depan para demonstran Wahyu membuat pernyataan tertulis tentang komitmennya tidak akan ada lagi tindakan kekerasan atau represif dari anggota Polresta Tangerang baik terhadap mahasiswa maupun masyarakat.

“Bahwa bila ada lagi tindak kekerasan atau represif dari anggota polresta terhadap masyarakat atau mahasiswa, maka saya selaku Kapolresta Tangerang siap untuk mengundurkan diri,” tegasnya.

Ia juga memaparkan Brigadir NP anggota Polresta Tangerang melakukan tindakan di luar SOP pada pengamanan aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Tangerang, Rabu (13/10).

Penanganannya diambil alih Bidpropam Polda Banten. Atas tindakan itu, NP akan mendapat sanksi tegas sesuai peraturan yang berlaku di internal Polri.

Adapun kondisi Faris, sudah dilakukan pemeriksaan mendalam. Hasil CT Scan pada bagian kepala dan pemeriksaan MRA, Faris dinyatakan aman. Tidak ada luka dalam dan diperbolehkan pulang setelah dirawat selama dua malam. Ia ditangani oleh dua dokter spesialis ortopedi.

Sementara itu, Brigadir NP ditetapkan sebagai terduga pelanggar atas tindakan refresif membanting Faris, mahasiswa dari organisasi Himpunan Mahasiswa Tangerang (Himata). Ia terancam pasal berlapis.

Hal itu diungkapkan, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Banten AKBP Shinto Silitonga, pada Konferensi pers di Mapolda Banten, Jumat (15/10).

Kata Shinto, Brigadir NP telah diperiksa secara maraton yang dilakukan oleh Divisi Propam (Divpropam) Polri bersama Bidang Propam (Bidpropam) Polda Banten.

Atas pemeriksaan tersebutlah, Brigadir NP dikenakan pasal berlapis setelah ditemukan fakta-fakta oleh tim penyidik sesuai dengan aturan internal kepolisian.

“NP dikenakan pasal berlapis lebih dari dua, sesuai dengan aturan internal kepolisian, sehingga sanksi yang akan diberikan terhadap NP juga menjadi lebih berat,” katanya.

Shinto mengatakan, Polda Banten telah melakukan penahanan terhadap Brigadir NP selama tujuh hari di ruang tahanan khusus Ditpropam Polda Banten.

Ia mengatakan, penahanan ini merupakan buntut dari tindakan refresif yang dilakukan olehnya saat melakukan pengamanan aksi unjuk rasa mahasiswa di Kabupaten Tangerang.

“Saat ini NP telah dilakukan penahanan di ruang tahanan khusus oleh Bid Propam Polda Banten. Untuk pemberkasan, akan segera dituntaskan oleh penyidik ditpropam Polda Banten,” ujarnya.

Di sisi lain, terkait penanganan kesehatan Faris, Shinto Silitonga menjelaskan, kondisi Faris dalam keadaan stabil dan baik.
Namun, pihaknya masih terus berusaha untuk melakukan pemeriksaan dengan proaktif terhadap korban. Jika sudah dilakukan pemeriksaan, maka pihaknya akan membuat resume dan merampung kasus tersebut secara bersama.

Diketahui, Faris ditangani tim dokter profesional dari RS Ciputra untuk medical recovery.

“Kapolda Banten sangat konsisten terhadap upaya pemulihan kesehatan Faris, sehingga Kapolresta Tangerang memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada Faris,” ucapnya. (sep/mg-7)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here