SHARE
BARANG BUKTI : Kabid Humas Polda Banten AKBP Shinto Silitonga (dua dari kanan) didampingi Kasat Reskrim Polres Serang AKP David Adhi Kusuma (kiri), dan mantan kades yang menjadi tersangka tindak pindana korupsi di Mapolres Serang, Kamis (21/10). FOTO: Humas Polda Banten

SERANG-Polres Serang berhasil menangkap mantan Kepala Desa (Kades) Kepandean, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, berinisial YS (43). Pelaku diduga mengorupsi anggaran desa desa, bagi hasil pajak daerah, dan bagi hasil retribusi daerah, sebesar Rp 552 juta.

Itu dikemplang YS selama menjabat dari 2012 sampai 2018. Uang itu dipergunakannya untuk melakukan bisnis gaib dan menikahi 2 istri mudanya. Kabid Humas Polda Banten AKBP Shinto Silitonga mengatakan, modus yang dilakukan YS, dana desa yang telah diserap tidak sesuai dengan peruntukannya. Kemudian YS memerintahkan bendahara desa mencairkan dana untuk melakukan pembangunan infrastruktur seperti, pembangunan drainase yang dilakukan. Namun tidak sesuai spesifikasinya.

Sehingga pembangunan itu menjadi tidak berkualitas. Lalu ada pekerjaan yang menggunakan anggaran desa tetapi pekerjaan itu sama sekali tidak dilakukan.

“Setelah kita dalami, ternyata kegunaan uang hasil kejahatannya disalurkan oleh YS kepada keluarganya. YS ini kawin cerai,” lanjutnya.

Shinto Silitonga menjelaskan bahwa uang negara itu justru digunakan untuk kepentingan pribadi. Diantaranya sebagai biaya menikahi dua istri mudanya.

Selain untuk biaya menikah, tersangka juga menggunakan uang hasil korupsi untuk bisnis gaib, penggandaan uang. Ditambah jumlah dana desa yang digunakan sekitar Rp 150 juta.

“Yang bersangkutan menggunakan uang korupsi untuk kepentingan pribadi dan penggandaan uang,” imbuh Shinto Silitonga.

Shinto mengatakan, penangkapan tersangka YS dilakukan pasca Inspektorat Kabupaten Serang menemukan adanya anggaran yang tidak bisa dipertanggungjawabkan lalu ditindaklanjuti menjadi sebuah penegakan hukum. Kemudian Inspektorat Kabupaten Serang bekerjasama dengan Satreskrim Polres Serang, melakukan pencarian terhadap tersangka YS selama dua bulan.

Shinto melanjutkan, tepat di bulan ketiga pada Sabtu (16/10) sekitar pukul 19.00 WIB tersangka YS berhasil ditangkap di Kompleks Depag, Kelurahan Cipare, Kecamatan Serang, Kota Serang.

“Tersangka YS ini berpindah-pindah tempat lantaran mengetahui kalau akan ditangkap. Berkat informasi dari masyarakat akhirnya kita berhasil menangkap tersangka YS. Sampai saat ini kita terus didalami kasus ini terutama dengan bendahara desa, apakah yang bersangkutan ini bergerak sendiri atau ada orang lain yang membantu,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, akibat perbuatannya, YS dikenakan pasal 2 ayat (1) Jo pasal 3 Jo pasal 18 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2021 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dengan ancaman hukuman minimal 15 tahun penjara maksimal seumur hidup.

“Polda Banten akan bertindak tegas terhadap semua bentuk tindak pidana korupsi, tidak hanya pada level desa melainkan level lainnya,” ucapnya.

Sementara itu, tersangka YS mengaku menggunakan uang hasil korupsi itu untuk membayar utang, memenuhi kebutuhan kedua istrinya dan bisnis mistis.

“Bisnis mistis itu kaya sifatnya seperti harta karun. Kalau dijual harganya bisa lebih tinggi. Tapi, kenyataannya saya malah ditipu dan uang itu lenyap,” katanya. (mg-7)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here