SHARE
BERI PENJELASAN: Walikota Serang Syafrudin memberikan penjelasan kepada wartawan terkait aksi warga Cilowong atas kerjasama pengelolaan sampah antara Pemkot Serang dan Tangsel di kantor Kelurahan Cilowong, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Kamis (21/10). FOTO: Syirojul Umam/Banten Ekspres

SERANG-Ratusan warga asal Kelurahan Cilowong, Kecamatan Taktakan, Kota Serang menyetop truk pengangkut sampah dari Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menuju Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) di Cilowong. Penyetopan ini akan terus dilakukan hingga 10 tuntutan mereka dapat dipenuhi oleh Pemkot Serang.

Hal itu diketahui usai saksi yang dilanjutkan dengan audiensi bersama Walikota Serang di Kantor Kelurahan Cilowong, Kamis (21/10). Pantauan Banten Ekspres massa aksi yang terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda, hingga anak-anak melakukan aksi yang dimulai sekitar pukul 08.00 WIB dengan membawa poster tuntutan-tuntutan. Aksi pun berlangsung cukup lama hingga Walikota Serang Syafrudin mendatangi massa aksi sekitar pukul 13.00 WIB.

Koordinator aksi, Edi Santoso mengatakan pihaknya menyetop truk pengangkut sampah Tangsel lantaran dampak yang ditimbulkan, yakni air lindi yang berceceran di jalan hingga ke tempat warga sekitar. Tentunya air dari sampah tersebut sangat berbahaya untuk kesehatan masyarakat.

“Apalagi jalan ke Taktakan ini sedang dibangun, truk sampah berhenti dan air sampah jatuh ke jalan, ada lalat, dan tentunya ini buruk untuk kesehatan,” katanya keapda wartawan.

Ia menjelaskan penyetopan truk yang mengangkut sebanyak 400 ton sampah ini dilakukan oleh warga dan sudah berjalan sejak Rabu malam. Sementara aksi tersebut tidak akan berhenti hingga semua tuntutan warga dipenuhi oleh Pemkot Serang yang melakukan kerjasama dengan Pemkot Tangsel.

“Kita ingin jalan ini steril dulu dari mobil sampah, kalau masih ada akan kita pulangkan sebelum tuntutan dipenuhi,” ujarnya.

Edi menuturkan 10 tuntutan tersebut diantaranya perbaikan tata kelola sampah dan sister tranformasi pengangkutan sampah. Kemudian memberikan pembinaan dan bantuan permodalan bagi pelaku UMKM, hingga meminta Pemkot Serang memberikan pendidikan gratis dari tingkatan SD hingga perguruan tinggi, khususnya bagi masyarakat Kecamatan Cilowong.

“Kita juga ingin ada dana awal pembinaan per RT itu RP 100 juta, dan di sini (Cilowong) ada 21 RT, ini untuk menghindari kecemburuan. Kemudian sistem transportasi dari Tangsel ini juga harus diperbaiki. Kalau tuntutan-tuntutan belum terpenuhi maka kita akan tetap berjalan (penyetopan),” terangnya.

Sementara itu, Walikota Serang Syafrudin mengatakan semua tuntutan yang dilontarkan oleh warga akan dibahas bersama OPD di lingkungan Pemkot Serang pada Senin (25/10).

“Ini akan kita bahas sesuai kemampuan, kalau keinginan puskesmas, mobil mabulans sekalipun tidak ada kerjasama dengan Tangsel kita siap. Kemudian anggaran kerjasama ini juga murni untuk Cilowong dan juga kompensasi warga,” katanya.

Lebih lanjut, ia juga menyetujui adanya penyetopan truk sampah dari Tangsel sampai hasil pembahasan bersama OPD rampung. Kemudian bila disepakati maka operasi pengangkutan sampah akan kembali berjalan. “(Penyetopan sampah) tidak apa-apa itu keinginan masyarakat, tidak jadi masalah. Kalau misalnya Senin ada kesepakatan nanti dimulai lagi,” tuturnya.

Ia mengaku penyetopan truk sampah ini dilakukan karena pemberian kompensasi yang terlambat. Hal itu wajar karena kerjasama antardaerah membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

“Karena kerjasama antardaerah itu berbeda dengan antarpengusaha, kalau antar pemerintah ada prosedur. Tapi sarana dan prasarana harus diperbaiki, peralatan harus siap, mobilisasi juga harus siap, hal ini kita penuhi semua tahun ini,” paparnya. (mam/tnt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here