SHARE
Ganda putri Indonesia Gresiya Polli (kanan) dan pasangannya Apriyani Rahayu sudah mencoba lapangan kemarin. Besok Indonesia Master mulai digelar di Nusa Dua, Bali.

NUSA DUA–Kondisi pandemi mengharuskan kompetisi Indonesia Masters, Indonesia Open, dan BWF World Tour Final 2021 diadakan dengan sistem gelembung. Itu memaksa panitia Indonesia Badminton Festival (IBF) 2021 menyulap Bali International Convention Center di Nusa Dua, Bali, menjadi venue pertandingan.

Indonesia Master yang menyediakan hadiah total Rp8,5 miliar akan dimulai besok, Selasa (16/11). Kemarin (14/11) para atlet mulai mencoba tiga lapangan utama yang disediakan sebelum Indonesia Masters 2021 bergulir besok.

Greysia Polii, ganda putri Indonesia, menyebutkan, bertanding di venue seperti itu memang butuh adaptasi. Peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 tersebut mengaku harus kembali melakukan penyesuaian dalam melakukan pukulan. Sebab, ada perbedaan arah angin dan situasi lapangan.

”Ya beda banget. Terutama kalau dibanding sama Istora (Senayan),” ucapnya saat ditemui setelah melakukan uji coba lapangan kemarin. Meski demikian, Greysia harus siap bertanding dalam kondisi apa pun. ”Udah ndak boleh bilang enak ndak enak. Ya, kitanya yang harus ngenakin sama lapangannya,” ujar pasangan Apriani Rahayu itu.

Hal yang sama diungkapkan pebulu tangkis ganda campuran Indonesia yang saat ini menduduki ranking kesepuluh dunia, Gloria Emanuelle Widjaja. Pasangan Hafiz Faizal tersebut mengatakan, di uji coba lapangan pertama masih mencari penyesuaian untuk mengatur pukulan sesuai arah angin.

Gloria menyebutkan, angin cukup kuat di lapangan 1 yang terletak di tengah. Namun, semua masih dalam batas wajar. Pebulutangkis binaan PB Djarum itu menambahkan, dirinya beruntung karena jatah coba lapangan pertama kemarin cukup panjang.

Para atlet tiap-tiap negara memang diberi jatah latihan berdurasi satu jam. Gloria menyebut itu cukup untuk memahami karakter angin di dalam lapangan. ”Tinggal jaga fokusnya untuk atur bola sesuai anginnya agar terus masuk,” ucap pebulu tangkis 27 tahun tersebut.

Nova Widianto, pelatih ganda campuran pelatnas Indonesia, berharap lapangan bisa diatur lebih tertutup lagi sebelum hari H. Sebab, dia merasa angin masih cukup kencang dan mengganggu saat shuttlecock berada di atas.

Namun, Nova berharap anak asuhnya bisa siap dengan kondisi apa pun saat bertanding di lapangan nanti. ”Kalau kondisi seperti ini kan bukan hanya kami yang merasakan susah. Lawan juga susah. Jadi, yang bisa mengatasi itu di pertandingan, dia yang akan memenangi pertandingan,” tutur pelatih 44 tahun dan peraih medali perak Olimpiade Beijing 2008 tersebut. (jpg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here