Home ADVERTORIAL Kesbangpol Gerak Cepat Gelar Rapat Forkominda Bahas Pengawasan Imigran

Kesbangpol Gerak Cepat Gelar Rapat Forkominda Bahas Pengawasan Imigran

0
SHARE
Wali Kota Benyamin Davnie dan Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan foto bersama perwakilan UNHCR dan Forkopimda di aula Blandongan, Balai Kota Tangsel, kemarin.

CIPUTAT-Belum lama ini terjadi demonstrasi imigran di kantor organisasi PPB yang mengurusi imigran (UNHCR) di Jakarta. Di Kota Tangsel sendiri ada lima tempat yang disewa oleh UNHCR dan IOM untuk penampungan imigran. Lokasinya berada di Kecamatan Ciputat Timur, seperti di Wisma Tulip, Wisma Kertamukti dan lainnya.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Pemkot Tangsel bertindak cepat dengan pengadakan rapat bersama Forkopimda terkait penyelesaian persoalan penanganan pengungsi dari luar negeri di Aula Blandongan, Balai Kota, Rabu (24/11).

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Tangsel Wawang Kusdaya mengaku, fenomena yang terjadi saat ini dimana ada penampungan pengungsi orang asing dan mereka melakukan demo ke kantor UNHCR. “UNHCR ini yang bertanggung jawab terhadap pengungsi. Imigran ini sudah tahunan di Indonesia dan ingin diberangkatkan ke negara ketiga, yakni Australia, Selandia Baru, Kanada dan negara lainnya. Tapi, belum ada tanggapan dari negara ketiga karena masih pandemi covid-19,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Rabu (24/11).

Wawang menambahkan, imigran tersebut ada di Indonesia karena, Indonesia merupakan jalur perairan yang strategis. Sehingga mereka tertangkap dilaut, diciduk petugasĀ  dan ditempatkan dipengungsian. “Kita khawatir akan ada unjuk rasa dan terjadi keributan,” tambahnya.

Menurutnya, orang asing yang ada di Ciputat Timur mereka rata-rata sudah lama tinggal disana. Bahkan, mereka ada yang melahirkan dan mereka merupakan pencari suaka politik dan kehidupan baru. Di Kota Tangsel sendiri ada sekitar 380 imigran yang tinggal Ciputat Timur dan mereka berasal dari Afganistan dan Nigeria. “Mereka dibiayai dan ditanggung oleh UNHCR dan IOM. Ini atas alasan hak asasi manusia (HAM),” jelasnya.

Wawang mengungkapkan, dipenampungan mereka hidup seperti dikarantina dan tidak boleh berkeliaran. Mereka tidak dilengkapi dokumen kenegaraan namun, jatah hidup mereka dijamin UNHCR dan IOM. “UNHCR dan IOM ini bekerjasama memberikan pelatihan keterampilan menjahit kepada mereka, cara masak, potong rambut. Dan anak-anak mereka juga dimasukkan sekolah disekitar meskipun kendala bahasa dialami,” tuturnya.

Menurutnya, selama ini terjadi gangguan-gangguan di sekitar penampungan. Hal ini terjadi karena budaya mereka berbeda dengan kita. Ia mencontohkan saat ngobrol sambil berteriak sampai larut malam, kadang keluar penampungan menggunakan motor tapi tidak pakai helm. “Hasil akhirnya menunggu negara ketiga membuka dan menerima pengungsi itu dan itu kewenangan UNHCR dan IOM,” tutupnya. (adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here