Home PENDIDIKAN HGN, Kesejahteraan Guru Agama Minta Diperhatikan

HGN, Kesejahteraan Guru Agama Minta Diperhatikan

0
SHARE
Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama Kota Tangerang, Nana Karyana.

KOTA TANGERANG – Wajah dunia pendidikan pada peringatan hari guru nasional tahun ini masih sedikit kusam. 2 tahun terakhir Pandemi Covid-19 membuat keterpurukan diberbagai sektor termasuk dunia pendidikan. Hal itu dikatakan Ketua peratuan guru Nahdlatul ulama (PGNU) Nana Karyana, saat ditemui diruang kerjanya, Kamis (25/11).

Nana mengatakan, Kondisi tersebut membuat para guru terus berupaya untuk berdaptasi dengan situasi, kondisi, serta sistem belajar-mengajar, guna membantu dan mengantar para murid ke gerbang pintu masa depan dengan ilmu pendidikan yang bermanfaat.

“Pandemi sudah mulai melandai, saatnya bergerak dengan Hati, pulihkan Pendidikan,” ujar Nana, salah satu dosen di STISNU Tangerang.

Nana menuturkan, peran guru khususnya pendidikan keagamaan memperoleh kesejahteraan yang belum layak dan jauh di bawah harapan. Padahal guru tersebut kebanyakan memiliki tugas dan beban yang sama dengan guru berstatus PNS dan yang sudah bersertifikasi.

“Hingga saat ini, guru honorer yang non sertifikasi dan non penyesuaian (inpassing) hanya memperoleh gaji dari pemerintah pusat rata-rata hanya sebesar Rp300 ribu per bulan, itupun dibayarkan per 3 bulan. Karena anggaran biaya gaji guru tersebut berasal dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS),,” jelasnya.

Dia menceritakan, tidak sedikit ditemui kehidupan guru khususnya guru agama yang tetap harus nyambi pekerjaan lain. Salah satunya ada yang berjualan kopi keliling untuk mencari tambahan. Peran pemerintah daerah, kata Nana, diminta turut andil dalam menyejahterakan guru madrasah dan guru agama tersebut.

“Kasian itu guru-guru honor. Makanya ini harus ada keterlibatan pemerintah daerah supaya nanti dari sisi kesejahteraan gurunya sendiri lebih baik lagi,” tandasnya.

Dia menjelaskan, peningkatan kapasitas guru bukan hanya tanggung jawab pemerintah pusat, tapi juga peran pemerintah daerah diminta turut andil untuk menyejahterakan guru tersebut.

“Kita mendorong pemerintah daerah itu bukan hanya memperhatikan sekolah-sekolah yang ada dibawah dinas pendidikan. Tolong perhatikan juga yang dibawah kementerian agama,” pinta Nana

Nana menyebutkan, DPRD Kota Tangerang telah mengesahkan Perda Diniyah Takmiliyah pada Tahun 2016 silam. Hingga saat ini Perda tersebut belum ada Perwalnya.
Dia Menduga ada pihak yang mengganjal realisasi Perda tersebut.

“Kalau memang merasa terganggu dengan nama Perda Diniyah, ganti istilah saja dengan Perda Agama dan Keagamaan. Kita cuma minta bentuk perhatian kesejahteraan guru agama agar ada payung hukumnya,” ungkapnya.

Nana menambahkan, guru adalah profesi yang teramat mulia. Guru adalah sosok tanpa tanda jasa, katanya. Sebab, hampir-hampir tiada profesi yang bisa terlahir tanpa peranan seorang guru. Terlebih pembinaan melalui pendidikan Diniyah sangat penting dan strategis guna membangun karakter anak-anak di usia tingkat dasar menanamkan nilai-nilai agama dan berpegang teguh yang dibentengi keimanan dan ketakwaan serta menjadikan mereka berakhlak mulia.

“Apalagi Kota Tangerang mottonya Akhlakul Karimah. Sudah sepatutnya Kota Tangerang mengakomodir pendidikan ilmu-ilmu yang bersumber dari ajaran agama Islam pada jenjang pendidikan pendidikan dasar,” pungkasnya.(raf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here