Home PENDIDIKAN Sekolah Perbatasan Kekurangan Guru Bahasa Indonesia

Sekolah Perbatasan Kekurangan Guru Bahasa Indonesia

0
SHARE
MENGAJAR: Anggota TNI sedang mengajar siswa diperbatasana luar negeri. FOTO: JPG

JAKARTA – Sekolah-sekolah di wilayah perbatasan ternyata banyak yang kekurangan guru bahasa Indonesia. Hal ini dikhawatirkan bisa menjadi ancaman bagi kedaulatan negara, karena anak didik akan lebih menguasai bahasa negara tetangganya.

Seperti yang terjadi di Tarakan dan Nunukan. Dua wilayah perbatasan dengan Malaysia ini mengalami kekurangan tenaga pendidik untuk beberapa jenis mata pelajaran (mapel). Yaitu bahasa Indonesia, seni budaya, dan IPS. Ketiga mapel ini sangat penting untuk anak didik di wilayah perbatasan karena berkaitan dengan identitas bangsa.

“Kami kekurangan guru bahasa Indonesia. Kalau Matematika malah relatif aman. Padahal bahasa Indonesia sangat penting untuk anak didik kami,” ujar Kepala SMPN 2 Tarakan Firny Napasti, saat menerima tim Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta media.

Ditambahkan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Hasto Budi Santoso, selain bahasa Indonesia, mapel seni budaya dan IPS juga butuh perhatian serius. Mengingat jumlah tenaga pendidiknya terbatas.

“Anak-anak di wilayah perbatasan harus diperkuat rasa kebangsaannya. Kalau guru bahasa Indonesia dan seni budayanya tidak terpenuhi, dikhawatirkan mereka lebih menguasai bahasa serta budaya Malaysia,” tuturnya.

Kekhawatiran juga diungkapkan Kepala SMPN 1 Nunukan Husin Manu. Di wilayah Nunukan, masih butuh banyak tenaga pendidik. Kalau ini tidak dipenuhi akan mengganggu jalannya proses belajar mengajar.

Khusus untuk pelajaran bahasa Indonesia yang jamnya bertambah dari empat jam menjadi enam jam membuat kebutuhan guru bertambah.

“Anak-anak di Nunukan banyak yang mengadopsi bahasa Melayu Malaysia karena memang sangat dekat. Kalau ini tidak diantisipasi, bisa jadi mereka lebih menguasai bahasa Malaysia ketimbang Indonesia,” terangnya.

Dia menambahkan, masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan, malah sering berinteraksi dengan negara tetangga. Ini jadi tantangan besar bagi tenaga pendidik untuk memperkuat rasa cinta tanah air.

“Kami berharap pusat bisa membantu memenuhi kebutuhan guru bahasa Indonesia, seni budaya, IPS, dan mapel lainnya di wilayah perbatasan,” tutup Husin. (jpnn/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here