Home PENDIDIKAN Formula PMI

Formula PMI

0
SHARE

“Terhadap masalah atau peluang yang Anda hadapi hari ini, apa sisi plus dan apa sisi minus yang bisa Anda jabarkan? Lalu, apa menariknya bagi Anda untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi di kemudian hari?

Di dunia pendidikan dan bisnis, formula ini juga sering digunakan untuk memantik kreativitas. Bagaimana formula PMI ini diterapkan? PMI singkatan dari Plus Minus Interesting. Formula berpikir yang dimunculkan pertama kali oleh Edward De Bono ini sering juga saya pakai ketika mengambil keputusan yang mengandung dilema. Seperti diketahui umum, De Bono adalah psikolog dan promotor Lateral Thinking yang telah banyak menulis buku mengenai otak dan kreativitas. Menerapkan PMI akan membantu Anda untuk: melihat dua sisi dari persoalan, melihat masalah dari pandangan yang berbeda, berpikir luas, menunda penghakiman, mengambil keputusan dengan pertimbangan yang masak, memantik kreativitas dan inovasi.

Bagaimana menggunakannya? Ketika Anda hendak mengambil keputusan, buatlah tiga kolom berisi unsur plus (Plus), unsur minus (Minus), dan unsur yang menarik (Interesting). Jika sudah di jabarkan, simpulkan mana yang lebih banyak atau ide-ide apa yang menarik yang bisa Anda lakukan. Misalnya, Anda ingin memberhentikan salah seorang pekerja. Biasanya hal ini cukup dilematis meskipun kita sudah menemukan alasan-alasan yang sangat faktual untuk melakukan itu. Ini bisa kita pahami karena memberhentikan seseorang itu bukan semata soal alasan faktual, tapi ada alasan emosional atau kemanusiaan yang terkadang bercampur antara alasan kasihan dan
kesalahan. Di satu sisi kasihan, tapi di sisi lain harus adil terhadap kesalahan.

Terlepas nantinya Anda mau memberhentikan atau melanjutkan, tapi sebagai proses memunculkan ide-ide kreatif terkait hidup Anda, lebih bagus kalau Anda mencoba memaparkan apa saja ide-ide plus yang muncul dari keputusan itu. Misalnya, Anda telah
menciptakan budaya adil terhadap kesalahan sehingga yang lain mendapatkan pelajaran. Jangan lupa untuk memaparkan ide-ide negatif. Misalnya, Anda harus mengeluarkan uang pemberhentian, entah berdasarkan undangundang, rasa kemanusiaan, atau hubungan Anda dengan oran-gorang tertentu akan terganggu, dan seterusnya.

Lalu apa yang menarik? Misalnya, Anda menemukan sebuah kesadaran mendalam dari peristiwa ini bahwa agar tidak terjadi pelanggaran serupa, berarti Anda perlu menciptakan sistem yang bisa mengantisipasi atau mengontrol, perlu sistem rekrutmen baru, perlu membuat aturan baru, perlu ada sentuhan hati baru, dan seterusnya. Bukankah ini semua akan memantik kreativitas? Banyak riset ilmiah yang mengungkap bahwa ciri umum orang kreatif itu adalah punya kehidupan batin yang lebih terbuka (berjiwa besar, berpikir luas), bisa menciptakan toleransi yang bagus terhadap kekacauan, independen, tidak konvensional, dan mau mengambil risiko. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here