Home TANGERANG HUB Sejak 2016 Tangani 60 Pecandu Narkoba

Sejak 2016 Tangani 60 Pecandu Narkoba

1
SHARE
SAMBUTAN: Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes Tangsel Tulus Muladiono memberikan sambutan sosialisasi pencegahan dan pengendalian penyalahgunaan Napza di Kecamatan Setu, Jumat (22/2). FOTO: Tri Budi/Tangerang Ekspres

SETU-Puskesmas Ciputat sejak 2016 telah menangani 60 pecandu narkotika melalui program terapi rumatan methadone (PTRM). Warga yang ditangani merupakan yang telah direhabilitasi oleh BNN Tangsel.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Tangsel Tulus Muladiono mengatakan, masyarakat yang diobati sebelumnya telah direhabilitasi oleh BNN Tangsel di rumah sakit ketergantungan obat (RSKO).

“Setelah direhabilitasi orang ini harus mengikuti PTRM di Puskesmas Ciputat,” ujarnya kepada
Tangerang Ekspres seusai acara advokasi dan sosialisasi pencegahan dan pengendalian penyalahgunaan napza oleh Kementerian kesehatan di halaman kantor Kecamatan Setu, Jumat (22/2).

Tulus menambahkan, methadone adalah obat yang digunakan untuk mencegah gejala putus obat yang muncul ketika tubuh memberikan respon negatif terhadap penghentian penggunaan napza. Obat tersebut dapat diberikan kepada pasien yang sedang menjalani masa rehabilitasi akibat penyalahgunaan napza.

“Methadone ini adalah salah satu jenis obat analgesik, yakni golongan obat pereda nyeri yang disebabkan ketergantungan jika digunakan berulang. Jadi pemberian obat ini kita berikan dengan pengawasan dokter,” tambahnya.

Masih menurutnya, Puskesmas Ciputat menjadi rujukan dari SRKO Fatmawati dan lainnya setelah ada pecandu narkotika direhabilitasi. Saat ini hanya Puskesmas Ciputat yang bisa menanganinya. “Ini untuk permudah akses masyarakat, jangan sampai aksesnya susah. Di Puskesmas Ciputat aksesnya bisa dari Depok dan Jakarta,” jelasnya.

Dari 60 pasien yang diobati, ada yang sembuh, hilang jejak karena mereka posisinya susah dilacak. Penderita atau pengguna narkoba yang telah direhabilitasi tiap hari harus datang ke puskesman dan diberi obat cair untuk menekan bahwa dia tidak narkoba lagi.

“Dengan rumatan methadon ini untuk menetralisir atau mengurangi dari kecanduan narkotika,” tuturnya.

Menurutnya, Ciputat merupakan daerah paling rawan peredaran narkotika. Yakni, jenis sabu, putau, ganja dan lainnya. Ciputat paling tinggi, lantaran penduduk populasi tinggi dan penyalahguaan juga tinggi. “Makanya jika buka pengobatan rawat jalan di Puskesmas Ciputat dengan PTRM,” tuturnya.

Sementara itu, Kasubdit Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa pada Kementerian Kesehatan Panca Nuralia mengatakan, saat ini Indonesia perang terhadap narkotika.

“Penyalahgunaan narkotika dimulai dari merokok, terus beranjak coba-coba pakai narkotika,” ujarnya.

Nuaila menambahkan, hasil survei di Banten ada 170.000 penyalah gunaan narkotika. Paling besar penyalahguna narkotika didominasi pekerja 59 persen, pelajar 24 persen. Gejala pengguna narkotika, mulai dari stres, muncul gejela gila, kalau tidak segera ditangani bisa jadi gila dan harus segera dibawa ke RSKO untuk diobati.

Kemeterian sedang gerakkaan Germas untuk sehatkan bangsa supaya kesehatan masyarakat terjaga.

“Sakit itu sumbernya kemiskinan, merokok, alkohol akan membuat kecanduan sehingga timbulkan penyakit fisik atau kejiwaan dan kecanduan,” tuturnya. (bud)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here