Home TANGERANG HUB Rumah Belum Jadi Tak Boleh Akad Kredit

Rumah Belum Jadi Tak Boleh Akad Kredit

0
SHARE

TANGERANG– Wahyudin (27), boleh bernafas lega. Dia baru saja menyelesaikan tahap wawancara dan tidak lama lagi akan akad kredit. Menurutnya, rumah berlokasi di kawasan Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, itu sudah 100 persen terbangun dan siap huni. Karena itu juga, berdasarkan informasi yang diterimanya, setelah semua persyaratan terpenuhi, akad kredit sudah bisa dilaksanakan dan rumah sudah bisa langsung dihuni. “Nanti, berkas komplet, langsung diverifikasi, lalu akad kredit,” terangnya kepada Jawa Pos kemarin (16/4).

Perjalanan Adit untuk bisa memiliki rumah murah tidak semulus Wahyudin. Adit sudah melunasi uang muka sejak Februari lalu. Persyaratan yang diminta developer dan bank pun sudah dia penuhi. Adit mengatakan, developer sempat memberi tahu bahwa proses wawancara akan dilaksanakan setelah 50 persen uang muka telah dibayarkan. “Waktu itu bilangnya sekitar Oktober-November. Tapi, sampai akhirnya uang muka lunas, belum juga ada kabar,” ungkap Adit yang mengambil rumah di kawasan Bogor.

Dengan belum terlaksananya wawancara, proses akad kredit pun jadi belum bisa dipastikan. Adit mengatakan, diterima atau tidaknya pengajuan kredit ke bank ditentukan dari wawancara. Jika wawancara saja belum ada kejelasan, Adit juga jadi belum dapat keputusan apakah dia layak atau tidak untuk dapat fasilitas itu. Di sisi lain, teman Adit yang juga mengambil rumah murah mendapat informasi bahwa molornya proses pengajuan kredit karena developer tersebut masih terganjal perizinan. “Katanya ada masalah dengan IMB. Nanti akan saya tanyakan langsung,” ungkapnya.

Kendati harus berhadapan dengan masalah seperti itu, niat Adit untuk memiliki rumah tidak surut. Dia mengaku masih akan menunggu selama 1-2 tahun untuk bisa memiliki rumah tersebut. Namun, jika tidak kunjung ada kabar, Adit mungkin akan membatalkan pengajuan kredit rumah murahnya dan mencari rumah lainnya.

“Tapi, saya sih masih percaya ya, karena ini program pemerintah dan ada intervensi pemerintah, rumahnya pasti terbangun. Sekarang si masih mau coba nunggu dulu,” katanya.

Rumah sudah terbangun 100 persen memang jadi syarat untuk terjadi akad kredit. Artinya, bank dilarang membiayai rumah pesanan atau indent. Corporate Secretary PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Eko Waluyo mengatakan bahwa untuk bisa mendapatkan rumah sejahtera alias rumah subsidi pemerintah, masyarakat harus terlebih dahulu membawa uang muka. Jumlah uang muka tergantung kesepakatan user dengan pengembang.

Setelah itu, pengembang wajib membangun rumah beserta fasilitas umum yaang melengkapi rumah tersebut. Rumah yang dibeli harus selesai dibangun hingga 100 persen. Barulah, user bisa melakukan akad kredit. “Akad KPR subsidi dapat dilakukan apabila rumah sudah selesai 100 persen, air bersih sudah ada dan berfungsi, jalan minimal perkerasan, saluran sudah ada dan berfungsi, listrik sudah ada, minimal (pengembang) sudah bayar penyambungan ke PLN,” katanya.

Dari sini sudah jelas, bahwa pengembang wajib membangun rumah beserta fasilitas umum yang melengkapi rumah tersebut. Sebelum melakukan proses akad kredit, petugas bank melakukan survei ke rumah yang akan dibeli. Petugas mengecek apakah bangunan rumah sudah benar-benar selesai dibangun, serta apakah fasilitas umum seperti jalan, listrik dan air telah terpasang. Setelah itu petugas bank memotret rumah tersebut. Foto itu kemudian menjadi bukti kelayakan realisasi kredit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here