Home TANGERANG HUB Urban Farming, Bertani di Lahan Sempit

Urban Farming, Bertani di Lahan Sempit

0
SHARE

CIPUTAT-Keterbatasan lahan di Kota Tangsel tidak mesti menghilangkan pertanian. Sebab pertanian masih bisa dilakukan melalui pemanfaatan lahan pekarang atau urban farming. Hal itu dikatakakan Walikota Tangsel Airin Rcahmi Diany saat Pelantikan Kelompok Tani Sekar Harum Kota Tangsel di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Jombang, Kecamatan Ciputat, Kota Tangsel, Senin (19/2).

Airin mengatakan, dengan pelantikan anggota ini diharapkan dapat membantu Pemkot Tangsel untuk menyukseskan kegiatan pertanian dan ketahanan pangan. Salah satunya dengan mendorong budaya urban farming yang terus dilkakukan masyarakat untuk meningkatkan ekonomi.

“Kami pemerintah selalu menjadi fasilitator. Dengan ini mereka bisa memasarkan hasil pertaniannya bukan hanya di Tangsel tapi, juga Jakarta. Di sini Tangsel sebagai pemasok. Ini juga dapat menjadi solusi di saat harga sayur seperti cabai, melambung,” kata Airin.

Dengan adanya urban farming, juga sangat bermanfaat bagi pelakunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, akan lebih baik jika ini dikembangkan lebih luas sehingga masyarakat luar pun akan menerima dampak positif dari ini.

“Kami (Pemkot) mendorong, tinggal sekarang menjaga kulitas. Sehingga bisa masuk ke pasar-pasar. Bagaimana kebutuhan akan tepenuhi,” ujarnya.

Keberadaan kelompok tani ini, diharapkan dapat menumumbuhkan inovasi dan berkreativitas dalam menumbuhkan urban farming. Sebab, inovasi dan kreativitas masyarakat diperlukan dalam mendukung terlaksananya urban farming.

“Apalagi lahan di Kota Tangsel sangat terbatas. Jadi, metode ini tepat guna merekontruksikan lahan minimalis menjadi lahan yang berkelanjutan,” ucap Airin.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Tangsel Nur Selamet mengatakan, pelantikan pengurus kelompok tani ini dapat menggerakan ibu-ibu yang ada di Tangsel untuk melaksanakan urban farming.

Lanjutnya, urban farming yang dilakukan warga dapat menajdi alternatif pemenuhan kebutuhan pangan lewat pemanfaatan ruang kosong untuk bercocok tanam. Lahan pekarangan, di pot bahkan hingga di dinding rumah.

“Urban farming bisa dilaksanakan di tiap-tiap RW, kelurahan dan kecamtan. Sehingga bisa tumbuh budaya menanam tanaman lokal,” tuturnya. (mg-7/esa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here