Home TANGERANG HUB Banjir Kiriman, Akses Jalan Terputus

Banjir Kiriman, Akses Jalan Terputus

0
SHARE

TANGERANG–Puluhan rumah warga di Kecamatan Cibodas dan Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, terendam banjir. Banjir ini akibat dari meluapnya Sungai Cirarab. Selain merendam rumah warga, banjir juga membuat akses jalan di Flyover Gatot Subroto dan Jalan Raya Regency, Perumahan Total Persada terputus oleh genangan air.

“Ada tiga RW di Kecamatan Periuk yang terkepung banjir. Di antaranya RW 21, 22, dan 25,” ujar Camat Priuk Sumardi, Senin (5/3).

Ketinggian air di rumah-rumah warga bervariasi, mulai dari 30 cm hingga 60 cm atau setinggi paha orang dewasa. Warga pun ada yang bertahan dan sebagian besar sudah mengungsi. “Di lingkungan RW 21 ada 160 KK yang terendam. Sedangkan di RW 22 sebanyak 150 KK, dan RW 25 ada 250 KK. Biasanya banjir ini wilayah Total Persada. Tapi saat ini meluas sampai Perumahan Garden City,” jelasnya.

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Kamaludin, menyebutkan, banjir disebabkan meluapnya Sungai Cirarab dan Sungai Ledug akibat kiriman air dari Bogor. “Ini banjir kiriman dari Bogor. Sebab di Kota Tangerang hari ini tidak ada hujan. Banjir mulai masuk ke rumah warga tadi pagi (kemarin,red). Kami sudah menurunkan tim dan perahu karet di lokasi,” bebernya.

Hingga siang hari air kiriman dari Bogor masih berlanjut. Pihaknya memperkirakan ketinggian air masih akan bertambah. Untuk itu, dia meminta warga untuk waspada.

Sementara, banjir yang melumpuhkan Jalan Raya Regency kemarin siang tingginya mencapai 80 sentimeter dan memutus akses penghubung Kota dan Kabupaten Tangerang. Kendaraan roda dua dan empat tidak bisa melintas. Kondisi ini membuat para pelajar dan para pegawai yang berangkat kerja kemarin pagi mengandalkan perahu karet untuk pergi beraktivitas.

Di Total Persada, luapan air dari Kali Ledug mulai memasuki permukiman sejak Minggu malam. Air mengalir lantaran ada tanggul yang bocor dari Kali Ledug dan diperparah dengan bertambahnya volume air akibat hujan deras yang terjadi di kawasan Bogor, Jawa Barat.

Warga Total Persada dan Perumahan Regency City mulai khawatir akibat banjir tak kunjung surut. Karena tanggul pasir darurat tak mampu lagi menahan air Kali Ledug.

Sementara prakirawan BMKG Yuni Yulianti mengatakan, awal bulan Maret ini intensitas hujan terasa meningkat dengan durasi hujan yang relatif lama serta berkelanjutan. Ternyata hal itu wajar, karena pada Maret ini memasuki puncak musim hujan kedua setelah Januari 2018 lalu.

Namun adanya hujan dengan intensitas tinggi, dan durasi yang relatif lebih lama dari biasanya tersebut diperkirakan akan terjadi hingga dasarian pertama bulan Maret atau hingga sepuluh hari pertama pada bulan ini.

Menurut dia, Maret disebut sebagai puncak musim hujan kedua pada bulan ini sesuai dengan rata-rata klimatologis selama tiga puluh tahun. Sementara puncak musim hujan pertama telah terjadi pada akhir Desember-Januari lalu yang sempat didera dengan gangguan atau anomali cuaca.

“Puncak musim hujan ini memang diperkirakan terjadi pada dasarian pertama saja. Selanjutnya hujan memang masih akan terjadi namun intensitasnya menurun secara bertahap,” ujar Yuni Senin (5/3).

Pada Maret tahun lalu, kata dia, memang bukan puncak musim hujan. Hal itu dikarenakan karakteristik setiap tahun berbeda-beda. Terutama jika ada pengaruh gangguan musim seperti El Nino yang hujannya kurang atau La Nina yang hujan sepanjang tahun.

Lebih jauh, Yuni menjelaskan, puncak musim hujan pada Maret ini dipengaruhi oleh index enso, suhu permukaan laut di sekitar Indonesia. Saat ini dinamika atmosfernya -0,62 sementara kalau normal itu +/- 0,5‎.Indeks tersebut cukup signifikan terhadap peningkatan hujan.

“Secara analisa angin,‎ ada konferensi dan belokan angin di Jabar. Menyebabkan hujan lebat dan kilat di Jabar,” ujar dia melanjutkan analisanya.

Dari indeks stabilitas atmosfernya pun, menunjukan konventif signinifikan yang berpotensi menyebabkan hujan ringan hingga lebat. Hal itu pun dipicu kelembaban yang tinggi di sekitar Jawa. Adapun kecepatan angin rata 5-18 km/jam, tapi kadang jika ada gangguan cuaca jadi lebih tinggi 20-30 km/jam‎. “Jadi harus tetap waspada,” ucap dia. (mg-04/jpg/bha)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here