Home TANGERANG HUB Banyak Siswa Masih Takut Masuk Sekolah

Banyak Siswa Masih Takut Masuk Sekolah

0
SHARE
TES URINE: Siswa SMK Bhipuri Serpong menjalani tes urine yang dilakukan petugas Badan Narkotika Kota Tangsel, Senin (6/8).

PAMULANG – Petugas Badan Narkotika Kota (BNK) Tangsel sejak Senin (5/8) mendatangi dua sekolah yang pelajarnya diduga terlibat tawuran pekan lalu. SMK Sasmitajaya Pamulang dan SMP Bhipuri Serpong. Kedatangan petugas itu untuk melakukan tes urine kepada siswa di dua sekolah tersebut.

Namun, sebagian besar siswa di dua sekolah tersebut masih tak masuk kelas.

Kepala BNK Tangsel AKBP Stince Djonso membenarkan kedatangan petugas ke dua sekolah tersebut lantaran satu minggu lalu siswanya terlibat tawuran yang menyebabkan korban luka parah.

Stince menambahkan, Senin pagi petugas mendatangi SMK Sasmitajaya Pamulang. Namun, tidak ada proses kegiatan belajar mengajar di sana.

Menurut keterangan petugas keamanan, siswa masih diliburkan. Selanjutnya petugas langsung bergeser ke SMK Bhipuri Serpong. Petugas hanya mendapati 15 siswa yang masuk kelas. “Bisa saja tawuran terjadi lantaran terpengaruh obat-obatan terlarang,” jelasnya.

Stince berharap, sekolah proaktif mengundang BNK sebulan sekali ke sekolah guna memberikan penyuluhan terkait bahaya narkotika. “Kenakalan remaja itu tanggung jawab bersama, baik orangtua, guru, polisi, pemerintah dan lainnya,” tuturnya.

Kepala SMK Bhipuri Serpong Sutrisno mengatakan, total siswa di sekolahnya ada 80 orang, terdiri atas 40 siswa laki-laki dan 40 perempuan. Siswa laki-laki yang masuk sekolah kemarin hanya 15 orang. “Sisanya tidak masuk sekolah terhitung sejak kejadian tawuran. Mungkin ada yang ketakutan karena bisa jadi target balasan, dan takut sama polisi,” ujarnya.

Sutrisno menjelaskan, video yang beredar dan viral di media sosial terkait tawuran itu patut dipertanyakan. Sebab, jumlah siswanya tak sebanyak seperti dalam video yang beredar tersebut. Dia menduga ada keterlibatan sekolah lain dalam aksi tawuran tersebut.

Menurutnya, setelah bertemu Gubernur Banten Wahidin Halim, pihak sekolah diberi solusi untuk membentuk forum antarsekolah. Anggota forum itu berasal dari unsur pemerintah, sekolah, kepolisian serta masyarakat, serta bertujuan mendeteksi dini kejadian yang tidak diinginkan.

“Saya berharap pelaku segera ditemukan dan kita bisa lakukan langkah selanjutnya. Kita akan panggil orangtua supaya anak tidak takut sekolah. Juga minta perlindungan polisi agar menjaga titik-titik yang dianggap rawan agar dipantau,” jelasnya.

Sutrisno menuturkan, sampai Senin (6/8) ada 25 siswa pria yang belum masuk sekolah, yakni kelas 3 ada 15 orang dan sebagian kelas 2. “Polisi akan memfasilitasi kedua sekolah untuk bertemu, plus alumnus juga akan diundang untuk rembuk dan buat ikrar damai bersama,” jelasnya.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNK Tangsel Sony Gunawan mengatakan, hasil tes urine pada siswa yang masuk sekolah menunjukkan negatif. “Artinya tidak ada yang positif menggunakan narkotika,” ujarnya. (bud/bha)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here