Home TANGERANG HUB Waspada Cacing Hati Hewan Kurban, 92 Petugas Pemeriksa Diterjunkan

Waspada Cacing Hati Hewan Kurban, 92 Petugas Pemeriksa Diterjunkan

0
SHARE
PERIKSA HEWAN KURBAN: Petugas pemeriksa hewan kurban drh Ridwan Mukhlis, mengecek gigi seekor kambing di salah satu tempat penjualan hewan kurban, Kelurahan Tigaraksa, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Selasa(14/8). FOTO: Rahmat/Tangerang Ekspres

TIGARAKSA – Idul Adha 1439 Hijriah tinggal menghitung hari. Perayaan hari raya Islam ini identik dengan kurban. Guna memastikan hewan sembelihan layak konsumsi, Pemerintah Kabupaten Tangerang menerjunkan tim gabungan, baik ke lokasi penjualan maupun ke tempat pemotongan.

Tahun ini, Tim Pemeriksa Kesehatan Hewan Kurban sebanyak 92 orang. Terdiri dari 13 orang dokter hewan atau medik veteriner, 3 orang paramedik veteriner, 30 orang petugas penyuluh lapangan (PPL), dan 46 orang pelaksana pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang.

Sebelum terjun ke lapangan, seluruh petugas telah mengikuti sosialisasi tentang tata cara pemeriksaan hewan kurban. Tidak hanya itu, beberapa waktu lalu telah dilaksanakan pelatihan pemotongan hewan kurban. Pelatihan itu diikuti sebanyak 50 orang pengurus atau anggota Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang tersebar di 29 kecamatan.

“Tim Pemeriksa Kesehatan Hewan Kurban bertugas untuk melihat kondisi kesehatan hewan kurban, melihat kecukupan umur hewan yang akan dikurbankan, serta melihat kondisi fisik hewan kurban,” kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan dan Kesmavet), DPKP Kabupaten Tangerang Febya Satyaningsing, seusai pembekalan dan pelepasan petugas pemeriksa hewan kurban, di Ruang Rapat Bola Sundul, Tigaraksa, Selasa (14/8).

Wanita yang biasa disapa Feby itu menyebutkan, kambing dan domba yang akan dikurbankan minimal berusia satu tahun, sedangkan sapi dan kerbau minimal dua tahun. Kondisi fisik hewan kurban tidak boleh cacat, seperti buta, pincang, patah tanduk, putus ekor, dan putus daun telinga. Hewan kurban juga tak boleh kurus.

“Tidak boleh kurus karena yang nanti diambil adalah daging hewan kurban tersebut. Kemudian, hewan kurban jangan yang dikebiri. Pengawasan dilakukan dari tanggal 16 Agustus dan berakhir pada hari H atau tanggal 22 Agustus. Titik penjualan atau penampungan hewan kurban tahun ini sekitar 550 lokasi, naik sekitar 10 persen dari tahun 2017,” jelas dia.

Feby pun mengimbau kepada masyarakat untuk memastikan hewan yang dikurbankan dalam keadaan sehat dan layak konsumsi. Hewan mengandung cacing pun perlu diwaspadai. Kambing, domba, sapi dan kerbau berpotensi mengandung cacing apabila digembalakan sebelum pukul 10.00 WIB, sebab di rerumputan masih banyak terdapat embun.

“Tetapi sebenarnya mengkonsumi daging yang terdapat cacing itu tidak berbahaya apabila dimasak dengan sempurna, karena masyarakat Indonesia kan biasanya mengkonsumi daging ataupun jeroan dengan pemanasan di atas 100 derajat celcius. Bisa dibikin rendang, bisa dibikin semur, otomatis cacingnya pun akan mati dan tidak mengganggu kesehatan,” tutur dia.

Salah satu pemeriksa kesehatan hewan kurban, drh Ridwan Mukhlis mengatakan, kecukupan umur hewan kurban dapat diketahui dari gigi. Biasanya, kambing dan domba yang berumur lebih dari satu tahun, serta sapi dan kerbau lebih dari dua tahun, terdapat perubahan pada bagian gigi. Yakni gigi tetap telah berganti.

“Kita juga periksa tingkah laku hewan kurban, gesit atau lincah. Jika lemah atau lesu, itu menunjukkan sakit. Kemudian, kotoran diperiksa, apabila ada sapi yang mencret ya itu tandanya sakit. Sementara khusus kambing dan domba, kita periksa bagian mata karena sering terserang penyakit mata, serta bagian anus untuk memastikan mencret atau tidak,” kata Ridwan saat melakukan pemeriksaan di salah satu lokasi penjualan hewan kurban di Kelurahan Tigaraksa.

Hewan-hewan yang telah diperiksa diberikan label, sebagai pertanda jika hewan itu cukup umur dan tidak sakit parah. Sehingga dinyatakan layak untuk dikurbankan. Apabila sebatas sakit mata, petugas langsung melakukan pengobatan. Dalam kurun dua atau tiga hari pun mata hewan tersebut dapat normal kembali. Dia menegaskan, petugas tidak melakukan pengobatan terhadap hewan kurban dengan cara disuntik.

“Kalau disuntik dikhawatirkan ada residu obat rasio antibiotik di daging, jadi lebih baik dihindari pengobatan dengan cara suntik pada hewan-hewan kurban. Sedangkan terkait cacing, biasanya banyak ditemukan pada bagian hati, tetapi sebagian kecil hewan kurban mengandung cacing. Ada juga cacing di bagian lambung dan usus,” pungkas Ridwan. (srh/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here