Home TANGERANG HUB Kemarau, Terjadi Peningkatan Kebakaran

Kemarau, Terjadi Peningkatan Kebakaran

0
SHARE
PADAMKAN API : Tim pemadam kebakaran berupaya memadamkan api di tanah kosong penuh ilalang di Desa Cukanggalih, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, beberapa waktu lalu. FOTO: Rahmat/Tangerang Ekspres

CURUG – Musim kemarau berpotensi kebakaran. Dalam kurun 1-22 Agustus 2018 ada sekitar 30 peristiwa kebakaran di Kabupaten Tangerang. Mayoritas titik kejadian yaitu di tanah kosong yang dipenuhi ilalang. Terakhir insiden mengenaskan di Perum Bukit Cisoka, Desa Selapajang, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang.

Tim pemadam pun tentu menjadi andalan dan pasukan yang ditunggu-tunggu saat kebakaran terjadi. Tak jarang masyarakat justru menghujat jika pasukan biru itu tiba setelah api membesar. Padahal ada beberapa hal yang tidak diketahui masyarakat terkait operasional pemadam kebakaran.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang Kosrudin mengatakan, belakangan ini kebakaran rata-rata akibat pembakaran sampah dan pembuangan puntung rokok sembarangan. Ada pun kendala yang tergolong sepele dalam upaya pemadaman. Yakni masyarakat tidak langsung menginformasikan ke BPBD, atau pos pemadam terdekat saat kali pertama melihat kobaran api.

“Seharusnya, bisa atau tidaknya api itu dipadamkan warga sekitar menggunakan alat seadanya, tetap disampaikan ke kami. Sebab potensi kebakaran tidak dapat diprediksi. Selama ini masyarakat cenderung berupaya memadamkan, setelah tidak berhasil atau api sudah membesar baru menginformasikan ke kami untuk meminta bantuan pemadaman,” ujar Kosrudin, Rabu (22/8).

Dia menyebutkan, menerjunkan tim pemadam ke lokasi kejadian butuh waktu. Target tiba dititik kebakaran maksimal 15 menit setelah menerima laporan. Yang pertama dikerahkan yaitu unit di pos terdekat. Kosrudin menegaskan, dalam pemadaman kebakaran tidak dipungut biaya apa pun alias gratis. Sehingga masyarakat diminta untuk tidak ragu-ragu melaporkan secepat mungkin jika melihat kebakaran.

“Kami justru sering dihujat kalau datang di saat api sudah membesar. Padahal kami mendapatkan laporannya terlambat, harus diketahui juga bahwa kami tiba di lokasi kebakaran paling lama 15 menit setelah menerima laporan. Tidak perlu ragu melaporkan kejadian kebakaran, pemadamannya gratis kok,” ucap Kosrudin, yang juga sebagai Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Tangerang.

Pada musim kemarau ini, Kosrudin mengimbau kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah dan membuang puntung rokok sembarangan. Kendati sampah menumpuk dan menimbulkan aroma tidak sedap, masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran.

“Kebakaran banyak terjadi di tanah kosong yang ada ilalang akibat pembakaran sampah. Kalau tidak tertangani dengan cepat akan merambat ke permukiman warga,” tandas dia.

Kosrudin menambahkan, masyarakat juga dapat menjadikan pembelajaran peristiwa kebakaran di Perum Bukit Cisoka pada Selasa (21/8) yang menelan sebanyak empat orang korban jiwa. Dimana diduga sumber api berasal dari alat pengatur tekanan udara pada pendingin ruangan (blower air conditioner). Pemilik rumah menempatkan blower AC di dekat pintu kamar.

Tidak hanya itu. Akses keluar-masuk rumah diubah menjadi rolling door. Pintu utama sebelumnya telah direnovasi dengan mendirikan bangunan kecil di lahan kosong depan rumah. “Posisi blower AC berada di dekat pintu kamar sehingga satu keluarga itu terjebak saat api membesar. Seharusnya blower AC jangan di dalam ruangan. Kemudian, pintu utama harus ada, jangan malah rolling door karena susah membukanya,” pungkas Kosrudin. (srh/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here