Home OLAHRAGA Tim Sprint Butuh Regenerasi

Tim Sprint Butuh Regenerasi

0
SHARE
Dari Kiri : Lalu Muhamad Zohri (dua dari kanan) bersama Fadlin, Eko Rimbawan dan Bayu Kertanegara merebut medali perak di Asian Games lari 4 x 100 meter. FOTO: JPG

JAKARTA – Winning team jangan diubah. Begitulah seharusnya. Namun, itu tidak akan berlaku bagi tim estafet 4 x 100 meter Indonesia. Meski empat penggawanya sukses meraih perak di Asian Games 2018, perubahan harus dilakukan. Sebab, dua orang di antaranya berencana mengakhiri karir.

Di pesta olahraga Asia yang berakhir Minggu lalu (2/9), tim estafet Indonesia diperkuat Fadlin, Lalu Muhammad Zohri, Eko Rimbawan, dan Bayu Kertanegara. Yaspi Boby diplot sebagai cadangan. ”Yaspi dan Fadlin sudah bilang ingin mundur dari pelatnas setelah Asian Games. Kami harus melakukan regenerasi secepatnya,” jelas Eni Nuraeni, pelatih sprint pelatnas atletik.

Dibandingkan anggota skuad lain, Fadlin dan Yaspi memang sudah senior. Fadlin 28 tahun, sedangkan Yaspi baru masuk kepala tiga. ”Kalau mereka keluar, artinya hanya 3 pelari muda yang tersisa. Eko, Bayu dan Lalu Zohri,” kata Eni.

Karena itu, Eni bakal kembali memantau atlet muda yang bisa dipromosikan ke tim senior. Diharapkan, regenerasi bisa beres tahun ini supaya mereka bisa langsung diterjunkan di SEA Games 2019. Jika hasilnya bagus, maka tim atletik akan semakin percaya diri menghadapi dua event yang lebih besar: Olimpiade 2020 dan Asian Games 2022.

Eni mengatakan, pelatnas seharusnya diisi sedikitnya delapan pelari. Jadi ada dua tim sprint. Di Asian Games lalu, Indonesia dapat menurunkan tim di nomor 4×100 meter dan 4 x 400 meter. Nomor 4 x 400 diwakili oleh Ifan Anugrah, Umar Wira, Heru Astriyanto, dan Arif Rahman. Namun, dari empat orang itu, hanya Umar yang berstatus atlet pelatnas. Tiga pelari yang lain baru bergabung sekira sebulan sebelum Asian Games dibuka.

Hasilnya mudah diduga. Karena persiapan kurang optimal, jangankan ke final, di kualifikasi saja mereka kalah jauh dari negara-negara lain. Ifan dkk finis paling buncit dengan catatan waktu 3 menit 14,01 detik. Bahkan tertinggal hampir 6 detik dari Thailand yang sama-sama tidak lolos ke final.

Namun, keinginan Eni untuk menambah jumlah skuad sprint bakal dikembalikan kepada PB PASI. ”Sebab ini juga berkaitan dengan kemampuan finansial pelatnas,” ucap dia.

Sementara itu, Sekjen PB PASI, Tigor Tanjung menjelaskan, regenerasi merupakan program jangka panjang yang harus mereka jalankan. Apalagi, Indonesia punya Zohri, Bayu, dan Eko yang sama-sama bersinar pada nomor individual. Terutama Zohri, si juara dunia junior. Meski ditinggal para Fadlin dan Yaspi, pihaknya optimistis mereka bisa bersaing. Terutama di SEA Games 2019.

”Sebagai ganti (yang pensiun, Red), kemungkinan besar kami akan mempromosikan pelari dari pelatnas junior,” jelas Tigor. ”Ada beberapa pelari yang tengah kami pantau,” imbuhnya.

Terpisah, Kemenpora mengisyaratkan ada beasiswa bagi Zohri. Raden Isnanta, Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora menyebut ada beasiswa buat pelari asal NTB tersebut dari luar negeri. ”Tergantung Zohri-nya saja bagaimana, Kalau yang menawarkan tentu banyak, mau berlatih di sini atau di luar negeri,” ujarnya. (nap/na)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here