Home TANGERANG HUB Pengrajin Tempe Keluhkan Kenaikan Kedelai

Pengrajin Tempe Keluhkan Kenaikan Kedelai

0
SHARE
MENATA: Solihin, pengrajin tempe sedang menata barang dagangannya yang akan dijual ke pasar-pasar tradisional. FOTO: Zakky Adnan/Tangerang Ekspres

SEPATAN – Saat ini, pemilik industri rumahan makanan tempe harus mengikat pinggangnya, lantaran harga kacang kedelai mencapai Rp7.500 per kilogram. Akibatnya, biaya operasional produksi tempe naik, sehingga keuntungan yang diterima semakin berkurang.

Solihin, pengrajin tempe mengatakan, nilai tukar mata uang rupiah tehadap dollar mencapai Rp15 ribu per dollar. Maka, hal tersebut berdampak ke harga kacang kedelai yang terus naik. Sebab, harga kacang kedelai juga mengikuti nilai tukar rupiah terhadap dollar.

Selama ini, tuturnya, dia menggunakan kacang kedelai impor. Sebab, menurutnya, kedelai lokal jarang dipasaran. Selain itu, kualitas kacang kedelai impor yang digunakan jauh lebih baik dari kedelai lokal untuk diolah menjadi tempe. Sayangnya, harga kedelai impor tergantung nilai tukar rupiah terhadap dollar.

“Kacang kedelai menjadi bahan baku pembuatan tempe. Bahan baku yang kami gunakan ini barang impor. Jadi, harganya bergantung nilai tukar dollar. Naiknya dollar menjadi, salah satu faktor penyebab harga kacang kedelai semakin tinggi,” jelas Solihin, pengrajin tempe di Kampung Jembatan Merah, Desa Pondok Jaya, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, Kamis (4/10).

Terkakhir, dia membeli kacang kedelai senilai Rp6.700 per kilogram pada Juni lalu. Berikutnya, harga kedelai naik secara bertahap hingga Rp7.500 per kilogram saat ini. Bahkan, ungkapnya, sempat mencapai Rp7.700 per kilogram.

“Saat ini, dia masih bisa bertahan karena memproduksi tempe menggunakan kacang kedelai mencapai 125 kilogram per hari. Sedangkan, pengrajin tempe yang hanya memproduksi dibawah 50 kilogram per hari beberapa pengrajin sudah gulung tikar,” ungkapnya.

Menurutnya, dia masih bisa bertahan karena hanya menggunakan satu pekerja bayaran. Sisanya, anak-anaknya yang membantu. Selain itu, tempat tidak menyewa. Kalau, pakai banyak pekerja bisa tidak berjalan usaha miliknya yang digeluti sejak tahun 1990.

Sekarang, dia mengaku menjual tempe dengan harga Rp5.000 dan Rp6.000 per satuan. Menurutnya, dia belum mengurangi ukuran tempe yang diproduksi. Tetapi, ketika harga kacang kedelai mencapai Rp8.000 per kilogram. Biasanya, pengrajin kompak mengecilkan ukuran tempe sebagai langkah terbaik.

“Bahkan, kami pengrajin tahu dan tempe pernah berunjuk rasa di Monas, Jakarta. Ketika harga kacang kedelai mencapai Rp9.000 per kilogram pada beberapa tahun lalu. Sebab, harga setinggi itu bisa membunuh usaha kami,” tuturnya. (mg-2/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here