Home TANGERANG HUB 424 hektare Sawah di Kemiri Kekeringan

424 hektare Sawah di Kemiri Kekeringan

1
SHARE
KEKERINGAN: Salah seorang petani menggarap sawah mereka, meski kondisinya sedang kekeringan. FOTO: Dok. Tangerang Ekspres

KEMIRI – Dampak musim kemarau mulai terasa di Desa Patra Manggala dan Karang Anyar, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang. Sebanyak 424 hektare sawah terdampak kekeringan. Sampai saat ini, para petani di kedua desa tersebut tidak bisa menanam padi.

Toyib, Petugas Pengawas Organisme Pengganggu Tumbuhan (PPOPT) mengatakan, musim kemarau berkepanjangan mengakibatkan debit saluran air tersier dari Sungai Cileles, kering. Sehingga, saluran air yang mengairi persawahan di Desa Patra Manggala dan Karang Anyar tidak bisa menyuplai air.

Akibatnya, seratus persen lahan persawahan seluas 122 hektare di Desa Patra Manggala dan seluas 302 hektare di Desa Karang Anyar, Kecamatan Kemiri tidak bisa ditanami padi sampai saat ini. Sekarang, petani hanya bisa pasrah menunggu musim hujan datang, agar musim kemarau yang berkepanjangan berakhir.

“Ketika ada lahan persawahan yang kekeringan, maka waktu atau masa tanam padi tidak bisa serempak se-Kecamatan Kemiri dan Mau,” kata Toyib, di Kantor Balai Peyuluhan Pertanian (BPP) Tegal Kunir Kidul, Kecamatan Mauk, Jumat (5/10).

Di tempat yang sama, Abdul Gopar, Koordinator BPP Tegal Kunir Kidul mengatakan, lahan persawahan di Kecamatan Kemiri, seluas 1.569 hektare. Sedangkan, lahan persawahan di Kecamatan Mauk, seluas 22.820 hektare.

Menurutnya, dampak terparah akibat musim kemarau berkepanjangan lebih dirasakan petani. Sedangkan, lahan persawahan dibeberapa desa di Kecamatan Kemiri dan Mauk, sembilan puluh persen masih bisa tumbuh padi dan panen.

Ia menuturkan, lahan persawahan di Desa Patra Manggala dan Karang Anyar kekeringan sejak Juni lalu. Parahnya, para petani di kedua desa tersebut belum bisa kembali menanam padi sampai saat ini, lantaran saluran air tersier dari Sungai Cileles kering.

Adapun upaya yang dilakukannya untuk para petani supaya tetap bisa beraktivitas, agar beralih dari menanam padi menjadi menanam tanaman lain, seperti semangka dan timun. Sebab, tanaman tersebut tidak membutuhkan banyak air.

“Kami sudah menghimbau kepada petani untuk menanam tanaman yang tidak memerkukan air banyak supaya mereka tetap bisa beraktivitas, karena sebenarnya lebih menguntungkan menanam tanaman semangka dan timun,” ujarnya.

Dia berharap musim hujan datang setelah memasuki Oktober ini. Sebab, petani tidak akan bisa menamam padi, bila kekurangan suplai air yang mengairi lahan persawahan padi di Desa Patra Manggala dan Karang Anyar, Kecamatan Kemiri. (mg-2/mas)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here