Home TANGERANG HUB Sejak Darah Gratis, Permintaan Naik

Sejak Darah Gratis, Permintaan Naik

0
SHARE
STOK DARAH: Seorang pegawai Unit Transfusi Darah Kota Tangsel menata darah untuk diseterilkan, beberapa waktu lalu. FOTO: Dok. Miladi Ahmad/Tangerang Ekspres

SERPONG-Sejak diberlakukannyan program darah garis bagi yang memiliki KTP-el Kota Tangsel, permintaan darah terus meningkat. Dalam satu bulan sekitar 400 kantong darah, keluar dari Unit Donor Darah (UDD) yang dipesan menggunakan KTP Tangsel.

Kepala UDD Kota Tangsel Suhara Manullang mengatakan, tiap bulan ada sekitar 1.200 kantong darah yang didistribusikan PMI, baik ke rumah sakit swasta, rumah sakit kota lain dan RSU Tangsel. “400 kantong darah yang pakai KTP-el Tangsel dan sisanya bayar dan berasal dari RS swasta maupun peserta BPJS,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Minggu (7/10).

Suhara menambahkan, bagi yang memiliki KTP-el Tangsel dipastikan darah diperoleh secara gratis. Namun, bagi yang memiliki KTP di luar Tangsel dan memiliki kartu BPJS tetap dilayani dan pembayarannya dilakukan secara segitiga, yakni PMI ke rumah sakit, rumah sakit ke Dinas Kesehatan.

“Klaim untuk peserta BPJS kurangnya berapa dan rumah sakit yang akan klam ke Dinkes dan Dinkes yang bayar,” tambahnya.

Masih menurutnya, tahun ini kantor PMI akan direnovasi dan juga akan lakukan kerja sama operasional (KSO) dengan pemerintah pusat dan Jakarta. Selama ini pihaknya telah kerja sama dengan pusat, kota lain dan Jakarta meski kadang-kadang ada kendala dalam pendistribusian.

“Kerja sama ini dilakukan agar pendistribusian darah mudah dan lancar. Sehingga masyarakat yang memerlukan darah dapat terlayani dengan baik,” jelansya.

Mantan Direktur RSU Tangsel tersebut menuturkan, penerapan layanan darah gratis itu tertuang dalam peraturan walikota (perwal) nomor 14 tahun 2017 tentang pembebesan biaya pengganti pengolahan darah. RSU Tangsel dan beberapa RS swasta sudah melakukan MoU .

Suhara berharap, kebutuhan kantong darah bisa terpenuhi melalui kampanye donor darah. Ia terus melakukan upaya dan jemput bola agara masyarakat mau mendonorkan darahnya. “Tiap bulan kita peroleh 1.500 kantorng darah namun, hanya 1.300 kantong yang kondisinya bagus dan bisa dipakai,” jelasnya.

Masih menurut Suhata, darah diperiksa menggunakan alat bernama NAT. Ini merupakan generasi NAT tercanggih dan jika darah tidak baik akan cepat terdeteksi. Untuk mendapatkan darah dengan generasi NAT, diperlukan biaya lebih mahal yakni Rp 660 ribu per kantong.

Di bawahnya NAT adalah elisa, harga per kantong sebesar Rp360 ribu. “Kita harus bangga sebagai warga dan memiliki KTP-el Kota Tangsel, dimana darah akan disediakan gratis oleh Pemkot,” tutupnya. (bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here