Home PENDIDIKAN Apa Yang Anda Maknai Dari Kegagalan?

Apa Yang Anda Maknai Dari Kegagalan?

0
SHARE

Tantangan
“Periksalah sistem makna yang bekerja, misalnya Anda gagal, kalah, atau mengalami hal-hal buruk yang tidak Anda inginkan. Ciptakan makna-makna yang
mendukung tujuan Anda, bukan makna-makna yang menghancurkan Anda. Tapi yang lebih penting lagi adalah rencana tindakan dan kreativitas Anda. Buatlah
tiga rencana aksi yang kreatif, lalu jalankan dengan perjuangan sepenuh hati.”

Konon, ketika di masa-masa percobaan kreasinya, Thomas Alva Edison gagal berkali-kali, bahkan sampai ribuan kali. Orang-orang yang tahu, termasuk wartawan, bertanya apakah ia akan terus bereksperimen dengan ide-idenya atau menghentikannya karena sudah gagal terus-menerus. Apa jawaban Edison? Ia melontarkan jawaban yang kreatif.

“Saya tidak gagal, saya menemukan ribuan cara yang belum bekerja,” jawab Edison. Peristiwa atau kejadian yang menurut orang lain dipahami sebagai kegagalan, kefatalan, dan mungkin kesia-siaan belaka dianggap sebaliknya oleh Edison. Melalui pengalamannya dalam bereksperimen dengan ide-ide kreatif,
Edison menyimpulkan bahwa sesungguhnya tidak ada usaha manusia yang pantas disebut gagal jika dimaknai sebagai peristiwa yang sia-sia. Kenapa? Kegagalan pun menyimpan sesuatu yang berguna bagi kita selama kita memaknainya dengan pemahaman yang positif.

Banyak orang hebat yang pernah saya ajak bicara menyimpulkan bahwa mereka menemukan jalan menuju kehebatan di bidangnya setelah mengalami peristiwa-peristiwa yang tidak diinginkan, misalnya gagal, dipecat, kalah, dan seterusnya. Terhadap orang yang menyakiti kita sekalipun, ada sesuatu yang berharga bagi kita selama memaknainya dengan baik. Kenapa saya berkata begitu? Dari merekalah kita terdorong untuk berubah.

Kegagalan itu rasanya sama, baik bagi Edison atau bagi kita. Kegagalan pasti rasanya tidak enak. Kita maunya sukses terus. Yang membedakan bukan rasanya, tapi bagaimana seseorang memaknai kegagalan. Makna adalah pemahaman yang kita ciptakan dari peristiwa atau realitas. Makna ini kita yang menentukan, bukan peristiwa atau realitas. Pada peristiwa yang sama, ada makna yang berbeda-beda, tergantung isi kepala seseorang dan kualitas karakternya. Makna yang kita ciptakan akan menjadi sumber keputusan. Keputusan kita bergantung pada makna yang kita ciptakan. Orang yang memaknai hidupnya sebagai anugerah Allah SWT akan mengambil keputusan untuk bersyukur atas semua nikmat yang diterimanya, mulai dari kesehatan, kecerdasan, jabatan, dan sebagainya.

Sebaliknya, orang yang memahami hidupnya sebagai korban ketidakadilan Allah akan cenderung ingkar dan tidak mau bersyukur. Orang-orang kreatif memaknai kegagalan bukan sebagai kehancuran tetapi sebagai terobosan untuk menemukan cara yang lebih bagus dan dipahami sebagai kesempatan untuk melakukan yang lebih bagus. Kegagalan dimaknainya sebagai tantangan (challenge) atau panggilan untuk menunjukkan kehebatan.

Orang yang gagal mengeluarkan kreativitasnya sering kali bukan karena tidak mampu, tapi karena salah menciptakan makna dari keadaan, peristiwa, atau realitas. Coba Anda praktikkan, misalnya Anda memahami kekalahan Anda sebagai kehancuran yang sudah tidak memungkinkan Anda untuk bangkit lagi, apa yang terjadi pada jiwa Anda? Dipastikan jiwa Anda ikut hancur dan tidak mungkin kreativitas akan lahir dari jiwa yang hancur. Kata Albert Einstein, karya hebat tidak lahir dari hati yang remuk.

Proses memaknai peristiwa, keadaan, dan kenyataan inilah yag oleh para ahli di bidang pendidikan disebut transformasi: mengolah atau mencerna untuk melahirkan diri yang baru. Kapasitas untuk bertransformasi ini hanya diberikan Tuhan kepada manusia, tidak kepada binatang atau tumbuh-tumbuhan. Kawanan singa tidak bisa memaknai krisis buruan sebagai terobosan untuk beternak. Dari dulu sampai kiamat nanti, cara kawanan singa mencari makan akan tetap sama.

Demikian juga tumbuh-tumbuhan. Tapi manusia? Tanah bisa dijadikan patung, padi diolah menjadi nasi, penyakit bisa diubah menjadi obat dan rumah sakit, kebutuhan untuk terbang diolah menjadi pesawat, kebutuhan menyelam diolah menjadi kapal, dan seterusnya. Maknailah segala peristiwa dengan pemahaman yang membuat Anda berubah. Dijamin Anda pasti kreatif! (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here