Home TANGERANG HUB Kekurangan Air, Petani  Beralih Tanam Bawang

Kekurangan Air, Petani  Beralih Tanam Bawang

0
SHARE
BIBIT: Asmadi (kiri) menunjukan bibit bawang yang siap untuk ditanam di Kampung Tegal RT 13/05, Desa Tanjakan, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, Kamis (18/10). FOTO: Zakky Adnan/Tangerang Ekspres

RAJEG – Kekurangan air dalam mengelolah sawah pertanian padi, tak membuat petani kehilangan akal agar bisa melanjutkan usaha. Asmadi, warga Kampung Tegal RT 13/05, Desa Tanjakan, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, yang beralih menanam bawang saat ini.

Awalnya, ia menuturkan, Petugas Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sukatani, mengajak dia mengikuti pendidikan penanaman bawang di Brebes pada April lalu. Pasalnya, dia merupakan salah satu anggota kelompok tani (poktan) Sadar, di Desa Tanjakan, Kecamatan Rajeg.

“Alhamdulillah, setelah pulang dari Brebes, saya mendapatkan bibit bawang sebanyak 50 kilogram,” tuturnya, Kamis (18/10).

Setelah itu, dia menanam bibit bawang yang dia miliki diatas tanah seluas 1.000 meter persegi. Penanaman menggunakan sistem jarak ukuran 15 sentimeter dan 10 sentimeter, diantara bibit yang satu dengan yang lain. Kemudian, setelah masa tanam selama 70 hari. Hasilnya, dia mendapatkan panen sebanyak 456 kilogram beberapa waktu lalu.

Ia mengungkapkan, sebagian hasil panen dijual ke pengepul. Sisanya, bawang dikelola menjadi bibit kembali. “Usia tanam selama 60 hari, dijual sebagai bahan dapur. Sedangkan, usia bawang yang ditanam selama 70 hari, dikelola untuk bibit kembali,” jelasnya.

Kedepan, hasil bibit yang dia peroleh, akan kembali dikelola diatas tanah seluas 3.000 meter persegi. Sebab, dia berusaha petani di Desa Tanjakan bisa menjadi penghasil bawang di Kabupaten Tangerang.

Sebab, menurutnya, ia tertarik menjadi petani bawang karena perawatan bawang lebih mudah dibandingkan perawatan tanaman padi. Kemudian, lanjutnya, debit air yang dibutuhkan untuk menanam bawang lebih sedikit, dibandingkan menanam padi.

“Dari segi harga, nilai jual bawang juga menguntungkan bisa mencapai Rp15 ribu per kilogram. Bahkan, bisa mencapai Rp50 ribu perkilogram pada Januari sampai Mei setiap tahun,” ujarnya.

Jadi, ia menyimpulkan, petani harus beralih menanam tanaman lain, ketika debit saluran air tersier Sungai Cidadane tidak mencukupi untuk menyuplai air ke lahan persawahan padi. Sebab, menanam bawang tidak membutuhkan air sebanyak menanam padi. Tetapi, hasilnya juga menguntungkan. (mg-2/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here