Home TANGERANG HUB Sawah Produktif Beralih Jadi Perumahan

Sawah Produktif Beralih Jadi Perumahan

0
SHARE
PANEN: Para petani di Kecamatan Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang sedang melakukan panen di sawah yang masih tersisa karena kebutuhan pembangunan. FOTO: Zakky Adnan/Tangerang Ekspres

RAJEG – Lahan pertanian padi di Kecamatan Pasar Kemis, Sindang Jaya dan Rajeg, semakin berkurang pada periode 2017 sampai 2018. Pasalnya, banyak persawahan beralih fungsi menjadi perumahan. Padahal, lahan pertanian ketiga wilayah tersebut produktif menghasilkan padi.

Dede Sutaryo, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sukatani, mengakui, lahan pertanian produktif di Kecamatan Pasar Kemis, Sindang Jaya dan Rajeg berkurang hingga 158 hektar periode 2017 sampai 2018.

“Faktor penyebab berkurangnya lahan persawahan produktif di tiga wilayah binaan BPP Sukatani, salah satunya karena lahan beralih fungsi menjadi perumahan,” kata Dede, Selasa (23/10).

Tahun lalu, ia mengungkapkan, lahan persawahan padi seluas 489 hektar di Kecamatan Pasar Kemis, sekarang menjadi 484 hektar, berarti berkurang lima hektar. Sedangkan, lahan persawahan padi di Sindang Jaya, seluas 1.358 hektar, menjadi 1.324 hektar, berkurang 34 hektar.

“Terparah di Kecamatan Rajeg, semula 2.543 hektar pada tahun lalu, menjadi 2.424 hektar, berkurang hingga 119 hektar. Keseluruhan, total lahan persawahan berkurang 158 hektar ditiga kecamatan,” ungkapnya.

Ia menyampaikan, penyebab lahan persawahan produktif berkurang karena lahan tersebut dijual kepada pengembang, alasan petani menjual lahan persawahan karena bisa mendapatkan uang tunai dengan nilai yang besar. Bahkan, sebenarnya, ada transaksi jual beli sudah dilakukan sejak 2000 lalu.

“Banyak petani hanya sebatas menggarap lahan persawahan milik mereka yang sudah dijual ke pengembang. Maka, ketika perusahaan properti tersebut ingin menggunakan lahan, si petani mau tidak mau harus menerima,” tuturnya.

Lahan persawahan di Kecamatan Pasar Kemis, Sindang Jaya dan Rajeg, menurutnya, memiliki tingkat produktifitas yang baik. Sebab, sambungnya, lahan persawahan di ketiga daerah tersebut dapat menghasilkan gabah sebanyak lima sampai tujuh ton per hektar.

Dengan demikian, saat ini, ia merasa miris karena kondisi lahan persawahan produktif beralih fungsi. Menurutnya, pemerintah harus memperhatikan statistik pertumbuhan jumlah penduduk yang berbanding terbalik dengan luas lahan persawahan yang semakin berkurang.

“Dikhawatirkan, kedepan akan menjdai persoalan baru. Bicara soal pangan, lebih baik produksi sendiri dibandingkan harus impor,” ujarnya. (mg-2/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here