Home TANGERANG HUB Pemkot Sebar Konselor ke Sekolah, Atasi Kenakalan Remaja

Pemkot Sebar Konselor ke Sekolah, Atasi Kenakalan Remaja

640
1
SHARE

SERPONG-Kenakalan remaja belakangan kerap terjadi di Kota Tangsel. Bahkan, akibat aksi ini hingga menelan korban nyawa sia-sia. Untuk meredamnya, Pemkot siap menyebar konselor ke sekolah-sekolah.

Untuk diketahui, kasus terakhir yang terjadi adalah pembunuhan yang dilakukan oknum fans penyanyi Iwan Fals dengan membacok fans grup band Slank yang terjadi beberapa hari lalu. Kejadian tersebut telah diungkap Polres Tangsel dan pelaku utamanya anak di bawah umur.

Untuk mencegah agar kejadian serupa tidak terulang lagi, termasuk kekerasan anak dan perempuan, Pemkot Tangsel bertindak cepat dan salah satunya mengadakan Rapat Lintas Sektoran di Soll Marina Hotel, Jumat (21/12).

Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, banyak faktor yang memengaruhi remaja melakukan kenakalan. Seperti pengaruh minumnan keras dan lainnya. “Akibatnya bisa mengakibatkan tawuran dan merenggut korban jiwa,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Jumat (21/12).

Pria yang biasa disapa Pak Ben tersebut menambahkan, Pemkot Tangsel sepakat bila fenomena itu jadi perhatian akan dicarikan tritmen tepat. Muspida siap turun ke sekolah karena kejadian kerap terjadi di sekolah dan diharapkan tidak menjalar.

“Penegakan hukum juga tetap berjalan. Penyebab remaja melakukan tawuran ini relatif, hal sepele juga bisa tapi, yang menonjol adalah penggunaan media sosial (medsos) menjadi penyebab dominan,” tambahnya.

Masih menurutnya, Pemkot akan lakukan sosialisasi atau tritmen yang tepat kepada pelajar agar secara cerdas gunakan teknologi dan aturan-aturan yang bisa dilakukan di lingkungan masyarakat dan sekolah.

Menurutnya, tritmen yang tepat adalah melakukan konseling bagi anak yang bermasalah, contoh kasus pelecehan seksual juga menimbulkan trauma yang berat dan bisa timbulkan efek bagi anak menjadi melenceng perilaku seksualnya.

Di medsos ada remaja aatau anak sekolah yang ditantang berantam dan mereka terpancing dan melakukan kriminal untuk buktikan kejantanan. “Kita ingin memutus mata rantai dengan tritmen yang tepat,” jelasnya.

Mantan pegawai Pemkab Tangerang tersebuit menjelaskan, yang jadi perhatian Pemkot adalah pengelola SMA jadi wewenang provinsi. Ia berharap provinsi bisa jalin komunikasi yang intensif dan Pemkota akan lakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah.

“Jangan biarkan mereka tumbuh tanpa kendali anak remaja ini. Ada juga pelaku yang dewasa dan itu masuk kriminal murni dan Kajari dan Kapolres punya komitmern akan tindak tegas hal ini,” tuturnya.

Pak Ben menjelaskan, rumusan tersebut liding sektornya di DPMP3AKB namun, akan lebih banyak aspek preventif dan dinas lain juga akan terlibat. Dari sisi kuratif aspek penegakan hukum oleh satpol pp dan instansi lainnya juga akan berjalan.

Di Tangsel akan dibangun suasa kondusif dengan cara membangun kanal-kanal untuk anak-anak kreatif untuk salurkan hobi dan ide. Dinas akan lakukan itu termasuk masyarakat juga dan bila terjadi tindak pidana kriminal maka muspida sepakat aturan tetap ditegakkan.

“Sehingga Tangsel jadi kota kondusif untuk tumbuh kembang anak. Keungkin anak-anak remaja kelebihan energi sehingga melakukan kriminal dan ini harus disalurkan kearah positif,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Tangsel Herlina Mutikasari mengatakan, kenakalan remaja terjadi karena hormon remaja beda dengan yang sudah dewasa.

“Usia remaja ini dari 12 sampai 18 tahun dan ini usia nanggung dan ada rasa beda dari masa anak-anak. Harus ada orang yang bisa membimbing dan harus ada fasilitas yang menampung aktifitas mereka,” ujarnya.

Herlina menambahkan, remaja beranggapan dengan membawa senjata panjang itu hebat dan tidak melanggar hukum. Semua kembali ke keluarga dimana keluarga jadi tempat mereka berasal. “Dulu anak remaja dipelototin orangtua takut tapi, sekarang malah difoto dan dijadikan update status medsos,” tambahnhya.

Masih menurut Herlina, dari Januari sampai September 2018 P2TP2A menerima 156 laporan dari masyarakat terkait kekerasan seksual, kekerasan anak, kekerasan rumah tangga dan lainnya. “Ada 111 kasus kekerasan terhadap anak tapi, kekerasan seksual paling banyak terjadi,” jelasnya.

Kekerasan anak mengalami penurunan dibanding tahun lalu tapi, tahun ini yang cenderung yang mengadu adalah perempuan yang menjadi korban. “Tahun lalu ada 167 aduan dengan 120 kekerasan terhadap anak,” tuturnya. (bud)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here