Home TANGERANG HUB Sisir Cipayung, Data dan Tertibkan Pedagang

Sisir Cipayung, Data dan Tertibkan Pedagang

0
SHARE
TARIK GEROBAK: Lurah Cipayung Tomi Patria Edwardi menarik gerobak salah satu pedagang kaki lima yang Ia temui saat melakukan Sisir Cipayung, Senin (7/1). FOTO: Miladi Ahmad/Tangerang Ekspres

CIPUTAT-Lurah Cipayung, Kecamatan Ciputat, Kota Tangsel membuat program nyentrik. Namanya, Sisir Cipayung. Program ini, dilakukan untuk menata Cipayung lebih baik. Khususnya, untuk mendata dan menertibkan pedagang di wilayah itu.

Sisir Cipayung perdana dilakuakn Lurah Cipayung Tomi Patria Edwardi pada Senin (7/1). Tomi menjelaskan, program Sisir Cipayung ini dilakukan untuk melakukan pendataan dari mulai RW 01 hingga RW 12 Cipayung.

”Kita menemukan banyak permasalahan, yang ada di pinggir jalan Nasional. Cipayung berada di Pusat Pemerintahan Tangsel yakni Kecamatan Ciputat, serta berada di Jalan Utama Nasional. Sehingga menjadi etalase dan wajah Ciputa. Untuk itu perlu dibenahi dan ditertibkan,“ ungkapnya.

Tomi bersama dengan stafnya melakukan penertiban dan pendataan pedagang. Dari RW 01-12 disisir satu persatu dan didata olehnya. Bahkan, seperti permasalahan yang ada di kolong Flyover Ciputat.

“Kolong Flyover Ciputat sebelah utaranya masih kumuh, sebelah barat sama tidak tertata, pagar juga ada yang rubuh, sampah berserakan, pedagang menguasai hak pejalan kaki. Sehingga kita akan rapihkan, dengan melakukan koordinasi bersama stakeholder lainnya,” ujarnya.

Lanjutnya, Cipayung merupakan wajahnya Ciputat, sehingga pihaknya akan melakukan pembenahan agar terlihat lebih cantik dan tidak kumuh. Untuk itu dirinya akan mengundang stakeholder guna membenahi Cipayung, dan bekerja sama dengan Lurah Ciputat yang berbatasan dengan Cipayung serta dengan Camat Ciputat.

Plaza Ciputat masuk ke wilayah Cipayung, pasar merupakan penyumbang sampah yang banyak. Sehingga perlu dilakukan koordinasi untuk penataan kawasan tersebut. Sementara untuk pedagang yang berjualan di lahan milik aset pemkot akan dilakukan pendataan.

“Kita akan data dan koordinasi, kepada siapa mereka membayar sewa lahan dan aliran dananya kemana,” ungkapnya.

Bahkan Lurah Cipayung akan membuat musala di bawah kolong flyover dengan konsep bangunan Betawi dan ada tempat wudhunya. Kalau memungkinkan akan dikasih AC.

Sementara itu, salah seorang pedagang yang berjualan di bekas Koperasi Unit Desa (KUD) mengatakan mereka menyewa lahan untuk berjualan di kisaran Rp10 juta sampai Rp12 juta per tahunnya, dan dibayarkan ke oknum di wilayah itu.

“Kita nyewa dengan nominal berbeda, kalau saya di kisaran Rp12 juta per tahun,” ungkap seorang ibu yang berjualan di lahan KUD. (mol/esa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here