Home OLAHRAGA Jelang All England 2019, Benahi Mental Labil

Jelang All England 2019, Benahi Mental Labil

0
SHARE
LABIL: Jonatan Christie dituntut tampil stabil pada ajang All England jika ingin mengincar juara seperti saat meraih emas Asian Games 2018.

PERSIAPAN nomor tunggal putra untuk menghadapi turnamen bergengsi All England semakin sempit. Yang paling krusial adalah membenahi mental bertanding salah satu andalan Indonesia Jonatan Christie yang dinilai masih labil.

Hal ini dikemukakan pelatih tunggal putra pelatnas bulutangkis, Hendry Saputra Ho, yang menyatakan untuk bisa berprestasi Jonatan harus menata mental bertanding usai mengalami kekalahan dari Shesar Hiren Rhustavito, di final Superliga Badminton 2019.

Walau secara umum Hendry menoleransi kekalahan Jonatan dari rekannya, Vito, sapaan Shesar Hiren Rhustavito, pada laga yang digelar di Bandung. Tapi, Hendry tidak memberi toleransi saat Jonatan kehilangan poin karena kesalahan sendiri.

Jonatan, yang saat ini di posisi kesembilan dunia, kalah dari rekannya, Vito (ke-53 dunia), dalam permainan rubber game di final Superliga 2019 yang berlangsung akhir pekan lalu. Unggul lebih dulu, Jonatan harus mengakui keunggulan Vito dan menyudahi laga dengan skor 21-19, 23-25, dan 14-21.

Hendry mengakui kekalahan ini cukup mempengaruhi mental Jonatan. Apalagi, pemilik medali emas Asian Games 2018 itu akan bermain di All England.

“Kalau ditanya mempengaruhi mental? Ada, karena dia beberapa kali penentu kemenangan. Tapi, kekalahan ini biasa. Vito adalah atlet pelatnas saya juga. Dia punya rahasia menghadapi Anthony (Ginting) dan Jonatan,” kata Hendry kepada detikSport, Selasa (26/2).

“Justru yang saya lihat adalah pada angka-angka penting (yang harusnya diambil Jonatan) masih gampang mati sendiri. Kesadaran itu yang harusnya di lapangan (jelang All England) nanti harus bisa diatasi. Tingkat kematangan dia dan lain-lainnya,” Hendry menjelaskan.

Dengan situasi itu, Hendry pun harus bekerja ekstra keras untuk memulihkan mental pemainnya. Dengan All England yang dihelat 6-10 Maret, dia hanya memiliki waktu pendek mendongkrak performa anak asuhnya.

“Kami siapkan dengan tipe permainan dengan kondisi dari segala teknik mental. Tapi, waktunya empat hari memang sedikit sekali karena kami sudah sepekan bertanding di sana. Jadi, (pertama) pulihkan kondisi satu persatu dulu. Yang penting, di sana kondisinya baik dulu,” ujar dia.

“Untuk mati dan error pemain harus ada berjuang di sana (supaya tak terulang). Menurut saya pemain harus menyadari juga,” Hendry menambahkan. (apw/dtc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here