Home TANGERANG HUB Ubah Kotoran Sapi jadi Gas

Ubah Kotoran Sapi jadi Gas

2
SHARE
SUASANA: Proses penarikan tangki penampungan kotoran sapi untuk bahan bakar gas di Desa Ranca Labuh. FOTO: Zakky Adnan/Tangerang

KEMIRI – Kotoran sapi bagi sebagian orang mungkin menjijikan. Namun, limbah kotoran sapi tersebut menyimpan sejumlah manfaat. Limbah kotoran sapi, tak hanya bisa digunakan sebagai pupuk organik atau yang biasa disebut pupuk kandang. Melalui teknologi biogas, lethong sapi bisa diubah menjadi energi gas yang dapat digunakan untuk memasak.

Kotoran sapi diproses sebagai sumber energi menggantikan gas LPG maupun kayu bakar untuk memasak. Bahkan, juga bisa untuk lampu penerangan. Seperti yang dilakukan warga Desa Ranca Labuh, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang.

Iwan Darmawan, Ketua Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan, Forum Kaula Mandiri Tangerang Utara, mengatakan, pihaknya membuat bio gas memanfaatkan kotoran sapi dari hewan peliharaan milik sejumlah warga di Desa Ranca Labuh.

“Bio gas ini berbahan baku kotoran sapi. Sebab sejumlah warga memelihara sapi. Nah, makanya kami memanfaatkan potensi itu,” kata Iwan, kepada Tangerang Ekspres, Senin (11/3).

Secara teknis, ia menjelaskan, awal pihaknya membuat tangki penampung berukuran tiga meter kubik atau tiga ribu liter. Kemudian, tangki disambungkan ke pipa dan selang gas di rumah-rumah. Tak kalah penting, pihaknya memodifikasi kompor gas yang biasa digunakan masyarakat.

Kemudian, pihaknya mengisi tangki dengan kotoran sapi, minimal kotoran itu sebanyak lima belas ribu liter. Selanjutnya, setelah pengisian pertama kotoran Sapi ke dalam tangki, tempat penampungan ini dibiarkan selama dua pekan.

“Setelah gas dihasilkan, kami tidak bisa pakai gas dahulu, kami harus buang gas dahulu. Ini karena gas masih tercampur dengan udara bebas. Selanjutnya, kami mengisi kotoran sapi kembali dan menunggu hingga dua pekan. Kemudian gas dari kotoran itu dapat dimanfaatkan,” ujarnya.

Ia menyebutkan, setiap ukuran tangki kotoran sapi berukuran tiga ribu liter dapat dipakai untuk menyalurkan gas ke 10 sampai 20 rumah. Tetapi, menurutnya, setiap tangki berukuran tiga ribu liter, ideal disalurkan ke 10 rumah saja.

“Gas ini tidak berbau saat dimanfaatkan untuk memasak makanan. Aroma gas sama dengan gas elpiji biasa,” kata pria yang juga sebagai kepala bidang pertanian, gerakan pemuda Mathlaul Anwar (Gema MA).

Ia menambahkan, kegiatan ini bertujuan untuk memanfaatkan potensi wilayah yang dimiliki warga Desa Ranca Labuh. Dengan begitu, saat ini masyarakat dapat memanfaatkan kotoran sapi sebagai bahan bakar.

“Diharapkan, pengelolaan bio gas ini dapat mengurangi pengeluaran masyarakat membeli gas di warung. Selain itu, sisa kotoran sapi berupa cairan dari dalam tangki, bisa dijual karena dapat dimanfaatkan untuk pupuk tanaman,” tukasnya. (zky/mas)

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here