Home TANGERANG HUB Warga Diminta Waspada Virus Chikungunya

Warga Diminta Waspada Virus Chikungunya

0
SHARE
CEK: Pasukan TNI bersama kader pembasmi jentik mengecek kondisi penampungan air di Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, belum lama ini. FOTO: Dok. Tangerang Ekspres

TIGARAKSA – Penderita mengalami demam panas hingga terasa ngilu di setiap persendian. Gejala tersebut dialami saat tubuh diserang virus Chikungunya. Penyakit yang di bawa dan di sebarkan nyamuk jenis aedes albopictus.

Kata Kepala Bidang Pencegahan Persebaran Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmidzi, jenis nyamuk pembawa virus chikungunya berkembang biak di genagangan air dan menumpuknya sampah. Perbedaan mencolok antara demam berdarah yakni virus chikungunya tidak menyebabkan kematian.

“Penderita chikungunya hanya merasakan sakit luar biasa seperti di pukul memakai palu di persendian. Sehingga biasanya warga yang terjangkit tidak akan menggerakan tangan atau bagian tubuhnya. Jadi seolah-olah kaku padahal sedang merasakan sakit di persendian,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres melalui sambungan seluler, Kamis (25/4).

Ia menjelaskan, adanya kemiripan antara gejala yang terjangkit chikungunya dengan demam berdarah seperti mengalami panas dan demam. Adapun penanganan penyakit tersebut berbeda dengan demam berdarah sebab tidak menyebabkan kematian.

“Cukup berobat ke puskesmas tidak perlu di rujuk dan dokter di sana dapat menangani pasien chikungunya sebab tidak membahayakan nyawa pasien. Beda dengan DBD. Untuk pencegahannya lakukan seperti pencegahan nyamuk penyebab DBD seperti membersihakan bak mandi, mengubur sampah, dan menutup tangki penampungan air,” jelasnya.

Hendra mengaku pada 2019 belum adanya laporan kepada dinas kesehatan dari warga yang terpapar virus chikungunya. Untuk pencegahan, masyarakat dihimbau untuk menjada perilaku hidup sehat seperti yang kerap disosialisasikan.

“Untuk 2018 ada sekira 18 warga yang terjangkit chikungunya. Laporan tersebut berasal dari perangkat desa atau kepala desa kepada kita. Masing kemcatan bervariatif ada dua kasus hingga satu kasus. Tersebar sekira di 9 kecamatan dengan terbanyak ada di Rajeg, Sukadiri, dan Pakuhaji kesemuanya sekira ada yang lebih dari dua kasus,” ucapnya.

Senada, Pengamat Kesehatan Masyarakat dr. Dewi Maria Yuliani mengatakan, nyamuk aedes albopictus penyebab chikungunya sering berkembang biak di luar rumah. Adapun tempat bersarangnya sama dengan aedes aegypti penyebab demam berdarah.

“Jadi kalau ada kaleng-kaleng bekas, serta ban bekas atau lainnya yang ada air di dalamnya bisa berkembang biak di situ. Namun penderita bakal kesulitan dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari hingga kurun waktu dua minggu. Sebab persendian mengalami rasa nyeri yang luar biasa,” ujarnya saat dimintai keterangan.

Dewi mengutarakan, proses studi doktoral Strata-III (S-3) di Institute Pertanian Bogor (IPB) meneliti tentang nyamuk penyebab chikungunya. Pada penilitiannya didapat perbedaan mencolok perilaku antara nyamuk aedes aegypti dengan aedes albopictus.

“Jam opersional nyamuk chikungunya untuk pagi hari hanya pada pukul 08.00 hingga 10.00 WIB, sedangkan pada sore hari antara pukul 16.00 hingga 17.00 WIB. Jadi hanya di waktu tertentu berbeda dengan aedes aegypti yang bisa dimungkinkan saban hari. Urusan istirahat nyamuk chikungunya di luar rumah sedangkan nyamuk aedes aegypti bersembunyi di dalam rumah. Pengobatan sudah bisa ditangani di tingkat puskesmas kalau sekarang,” jelasnya. (mg-10/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here