Home BANTEN Seba Baduy 2019, Jaga Kelestarian Alam

Seba Baduy 2019, Jaga Kelestarian Alam

0
SHARE
SEBA BADUY: Ribuan warga Baduy mengikuti proses puncak tradisi Seba Baduy di Musemu Negeri Banten Alun-alun, Kota Serang, Minggu (5/5). FOTO: TB Iyus/Banten Ekspres

SERANG – Warga Suku Baduy meminta pemerintah dalam hal ini Pemprov Banten untuk menjaga kelestarian alam. Hal itu terungkap dalam puncak Seba Baduy di Museum Negeri Banten, Alun-alun, Kota Serang, Minggu (5/5).

Pemimpin pamerintah Suku Baduy, Jaro Saidi memohon kepada Pemprov Banten agar tidak merusak lingkungan.

“Gunung tidak boleh dilebur, lembur tidak boleh dirusak, mohon dijaga lingkungan di Banten. Utamanya kami menerima amanah dari leluhur bahwa gunung bukan hanya di Baduy,” kata Saidi kepada wartawan usai acara.

Ia berharap alam yang selama ini menjadi tumpuan hidup warga Baduy tidak mengalami kerusakan. “Mudah-mudahan tidak kena paru-paru. Karena kami berada di sangiang dada, sangiang sirah dan sangiang dampal,” katanya.

Mengenai perlindungan hukum adat, lanjut Saidi, pihaknya sudah berkali-kali memohon kepada pemerintah daerah  Pemkab Lebak untuk membuat peraturan daerah (perda).

“Ada 300 desa di Baduy. Karena yang disebut desa adat itu merupakan kekayaan pemerintah dan kekayaan negara. Harus dilestarikan. Kami mohon direspon adat itu,” ujarnya.

Ia juga meminta kepada pemerintah baik daerah maupun pusat untuk menjaga kesatuan dan persatuan. “Pemerintah itu harus jaga, aya (ada) kesatuan dan persatuan demi kemanan negara sehingga aman lahir batin. Dan silaturahmi ini mudah-mudahan ada manfaatnya,” katanya.

Sementara, Gubernur Banten, Wahidin Halim mengaku bersyurkur dan berterima kasih kepada warga Baduy yang rutin menngelar Seba Baduy. Ia menilai, jika budaya masyarakat Baduy dapat menjadi contoh warga di luar Suku Baduy.

“Suku Baduy itu masyarakatnya damai, tenang, harmonis, saling menghargai, menghormati, tidak merusak alam, tidak mencemari alam. Ini jadi contoh bagi saya dan para pejabat. Termasuk kejujurannya, membangun keikhlasan,” katanya.

Mengenai aturan terkait desa adat, lanjut WH, hal itu akan dipertimbangkan oleh pemprov sambil menuggu instruksi pusat.

“Bu Enong (Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Banten) apa susahnya. Ini harus kita dipertahankan, jangan terbawa asing, apalagi ada hoaks. Saling benci sama orang lain, alam juga harus dijaga. Saya dengar bapa juga keurangan lahan, nanti kita bisa minta ke perhutanan untuk hutan alam yang bisa kita tanami,” ujarnya.

Ia berharap, segala jenis pertambangan diupayakan tidak masuk dalam kawasan Baduy. WH menilai, jika itu terjadi maka Suku Baduy akan punah. “Apalagi bapak-bapak memang tidak mau menerima dana pemerintah, dan itu bagus karena kalau korupsi itu dosa,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here