Home TANGERANG HUB Keluhkan Kemacetan Jalan Raya Teluknaga

Keluhkan Kemacetan Jalan Raya Teluknaga

0
SHARE
MACET: Antrian kendaraan menuju jembatan kalibaru saat terjadi kemacetan di Jalan Raya Teluknaga-Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Minggu (23/6).

TELUKNAGA – Terjadi kemacetan panjang di Jalan Raya Teluknaga-Pakuhaji, Minggu (23/6). Akibat kemacetan itu antrian kendaraan mencapai beberapa kilometer dari Desa Kalibaru, Kecamatan Pakuhaji hingga Desa Kampung Melayu Timur, Kecamatan Teluknaga atau sebaliknya.

Jaminudin, salah satu pengendara sepeda motor mengaku terjebak macet saat berkendara dari arah Desa Kampung Melayu Timur menuju Desa Kalibaru, di Jalan Raya Teluknaga-Pakuhaji, lebih dari 30 menit.

“Pasca lebaran, baru pertama kali terjadi kemacetan parah pada hari ini terjadi (kemarin-red),” ungkapnya.

Ia menganggap kemacetan diakibatkan jumlah kendaaraan roda empat maupun roda dua yang memadati jalan tersebut pada akhir pekan ini. Selanjutnya, akibat tidak adanya petugas di persimpangan di Jalan Raya Teluknaga-Pakuhaji.

“Saya perhatikan, kalau tukang parkir yang mengatur lalulintas di perempatan jalan, mereka mengutamakan pengemudi kendaraan roda empat yang memberi uang saat ingin berbelok kanan ataupun kiri di persimpangan. Jadi, itu juga salah satu penyebab kemacetan,” ujarnya.

Aiptu Amsir, Kepala Unit Lalulintas Polsek Teluknaga mengatakan, pihaknya mengirim sejumlah personil anggota Polsek Teluknaga, untuk mengurai kemacetan di Jalan Raya Teluknaga-Pakuhaji.

“Alhamdulillah, setelah anggota mengatur lalulintas, kemacetan panjang di Jalan Raya Teluknaga-Pakuhaji, mulai terurai sekitar Pukul 15.00 WIB,” singkatnya.

Di tempat terpisah, Dani Wiradana, Kepala Seksi (Kasi) Rekayasa Lalulintas pada Dinas Perhubungan Kabupaten Tangerang mengakui traffic light (lampu lalulintas) di persimpangan Desa Pangkalan, Teluknaga, sedang padam. “Jadi, itu adalah salah satu penyebab kemacetan juga,” ucapnya.

Di luar itu, Dani menjelaskan, ada beberapa faktor penyebab kemacetan diantaranya, lebar ruas jalan dan bangunan liar milik pedagang kaki lima (PKL).

“Jadi, terkait ketiga hal itu harus diselesaikan secara terpadu. Misalkan, Satpol PP yang membongkar bangunan liar milik PKL, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) yang membangun pelebaran jalan, kemudian kami yang melakukan kelengkapan rambu lalulintas dan marka jalan,” pungkasnya. (zky/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here