Home PENDIDIKAN Orang Tua Jangan ‘Main Belakang’, Mendikbud Pantau Sekolah di Pasar Kemis

Orang Tua Jangan ‘Main Belakang’, Mendikbud Pantau Sekolah di Pasar Kemis

0
SHARE
KUNJUNGAN: Mendikbud RI Muhadjir Effendy (kiri) didampingi Pelaksana tugas (Plt) Camat Pasar Kemis Tisna Hambali (kanan) saat mengunjungi Sekolah Permata Insani, di Kelurahan Sindang Sari, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Senin (15/7).

PASAR KEMIS – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Muhadjir Effendy mengunjungi sejumlah sekolah di Jabodetabek, Senin (15/7). Kunjungan itu dalam rangka memantau hari pertama masuk sekolah pada tahun ajaran 2019-2020. Salah satu sekolah yang dikunjungi adalah sekolah Permata Insani, Kelurahan Sindang Sari, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang.

Kepada awak media, Muhajdir mengatakan, kunjungannya itu untuk memastikan bahwa hari pertama sekolah terlaksana sesuai dengan yang diharapkan. Terutama, Muhadjir menjelaskan, dia ingin siswa dapat mengenal lingkungan yang bersifat fisik maupun non fisik pada hari pertama sekolah. “Sekolah bukan berarti hanya di lingkungan dalam sekolah, tetapi luar sekolah. Termasuk keterlibatan pihak masyarakat atau orang tua untuk mengantar anak-anak ke sekolah agar anaknya dapat kerasan di sekolah yang baru,” kata Muhadjir.

Terkait Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), dikatakan Muhadjir, pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas pendidikan di seluruh Indonesia untuk menjamin bahwa tidak ada satu pun siswa yang tidak tertampung di sekolah. Ditanya wartawan soal evaluasi PPDB, ia menjawab setiap hari mengevaluasi. Sampai ia menerima masukan dari berbagai pihak hingga akhir Juli, untuk perbaikan PPDB pada 2020 mendatang.

Di luar itu, Muhadjir mengatakan, memiliki sejumlah sekolah kusus olahraga (SKO) yang hampir ada di seluruh provinsi di Indonesia. Tapi, akhirnya, sekolah-sekolah itu diserahkan ke pihak pemerintah provinsi. “Jadi, saya mendukung kebijakan presiden yang akan bikin semacam badan talenta Indonesia. Karena kami juga sudah memiliki pendidikan kusus dan layanan kusus (PKLK),” ujarnya.

Muhadjir menambahkan, dia mengimbau orang tua siswa tidak ‘main belakang’ dalam rangka memperjuangkan anak dapat bersekolah di sekolahan yang orang tua anggap bagus. Sebab, lanjutnya, dampak praktik kecurangan seperti itu tidak bagus untuk anak. “Apalagi, anak itu ketahuan teman-temannya bahwa masuk dengan cara-cara yang tidak baik,” pungkasnya. (zky)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here