Beranda HUKUM Polres Tangsel Jemput Bola

Polres Tangsel Jemput Bola

0
BERBAGI
Aurellia Qurratu Aini

SERPONG-Penyebab pasti kematian Aurellia Qurratu Aini belum ada titik terang. Calon pasukan pengibar bendera (Paskibra) Kota Tangsel ini meninggal dunia, Kamis (1/8) sekitar pukul 04.40 WIB di rumahnya di Taman Royal 2, Cipondoh, Kota Tangerang. Untuk mengungkap penyebab kematian siswi kelas XI MIPA 3 SMA Islam Al Azhar BSD tersebut Polres Tangsel bergerak melakukan penyelidikan. Polisi telah meminta keterangan dari keluarga almarhum.

Kapolres Tangsel AKBP Ferdy Irawan mengatakan, anggotanya telah meminta keterangan dari keluarga almarhum. “Hasil keterangan yang kita peroleh, tidak ada indikasi korban meninggal akibat kekerasan selama pelatihan. Namun, sebelumnya orang tua sempat mendapat curhatan dari korban, selama pelatihan yang cukup berat,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Senin (5/8). Ferdy menambahkan, curhatan gadis yang biasa di sapa Aurel itu, disampaikan usai latihan paskibra berlangsung selama dua minggu. Orang tua almarhum paham lantaran juga mantan anggota paskibra. “Namum, almarhum tidak cerita adanya kekerasan, kalaupun ada yang tidak disiplin dihukum bersama yang sewajarnya,” tambahnya.

Masih menurutnya, anggotanya juga akan memeriksa dan meminta keterangan dari anggota paskibra, teman-teman almarhum. Termasuk akan meminta keterangan dari Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Tangsel. Ini dilakukan untuk memastikan apakah ada kekerasan saat pelatihan dan pembekalan kepada anggota paskibra atau tidak. “Kita akan jemput bola atau mendatangi teman-teman almarhum. Termasuk kepada PPI Tangsel untuk kita mintai keterangan,” tuturnya.

Sementara itu, pelatih calon Paskibra Tingkat Kota Tangsel dari Yonkav 9 Serpong, Sertu Appoulo mengatakan, Yonkav telah melakukan penyelidikan, pengumpulan dan keterangan (Lidpulket), diperoleh beberapa informasi di lapangan. “Ada 9 poin yang kita peroleh dalam Lidpulket,” ujarnya. Sembilan poin tersebut adalah, para siswa ini masuk bergabung dalam paskibraka Senin-Kamis (22-25 Juli 2019) dan latihan mulai pukul 07.00 WIB sampai 16.00 WIB, baru pulang ke rumah masing-masing. Tugas Yonkav, kata Appoulo, hanya melatih pada saat latihan. Selebihnya setelah selesai latihan mereka diserahkan ke PPI dalam pengawasan dan pengendalian.

Ketiga, Paskibra Kota Tangsel tidak ada karantina. Yakni hanya latihan pagi sampai sore hari. Dan rencananya 11 Agustus 2019 mereka baru akan di karantina di Hotel Marylin Serpong. Hasil pemeriksaan dari buku diary Aurellia, memang ada tulisan bahwa Auellia lebih suka dan semangat dilatih oleh kakak-kakak TNI daripada dilatih oleh anggota PPI yang penuh dengan tekanan secara moril dan fisik. PaskibraTangsel untuk pengaturan dalam pelatihan sepenuhnya jadwalnya dari Dispora Tangsel, baik latihan di Batalyon Kavaleri 9/SDK ataupun latihan di Lapangan Cilenggang untuk hari pelaksanaan HUT RI.

“Keenam, secara teknis di lapangan kami bertanggung jawab dalam kegiatan pelatihan paskibra. Selebihnya untuk pasukan Paskibra di serahkan ke PPI sebagai pengawas sepenuhnya,” tambahnya. Selanjutnya, pelatihan di lapangan Cilenggang mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB sesuai jadwal latihan dari Dispora Kota Tangsel. “Ini sudah berjalan dengan baik dan sesuai dengan standar operasional sistem (SOP) serta pengawasan yang melekat. Terakhir, tidak benar bahwa almarhumah Aurellia saat latihan terjatuh seperti pemberitaan di media sosial (medsos). Karena, saat menghembuskan nafas terakhir 1 Agustus 2019 di rumahnya dan sempat dibawa ke rumah sakit oleh orang tuanya,” tuturnya. Ditempat terpisah, Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Tangsel Warta Wijaya mengatakan, ia memastikan bahwa saat latihan tidak pernah terjadi kekerasan fisik kepada calon Paskibraka Tangsel. “Hukuman kecil seperti lari, ini biasa kita lakukan agar calon paskibra serius dan kompak saat berlatih,” ujarnya. (bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here