Home TANGERANG HUB Polisi Bentuk Satgas Penyebab Keracunan

Polisi Bentuk Satgas Penyebab Keracunan

0
SHARE
PENYULUHAN: Tim kesehatan Puskesmas Pasar Kemis mensosialisasikan PHBS, di salah satu ruangan kelas Ponpes Nurul Himah, Desa Pangadegan, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, belum lama ini. FOTO: Dok. Tangerang Ekspres

TIGARAKSA – Penyebab santriwati Pondok Pesantren Nurul Hikmah, mengalami mual dan muntah masih misteri. Pengambilan sampe air tanah dan air sungai di sekitar pesantren sudah dilakukan. Namun, hasil uji laboratorium dibutuhkan waktu hingga 10 hari.

Tanda tanya penyebab santriwati keracunan, mendorong kepolisian Polresta Tangerang membentuk satuan tugas (Satgas). Tugasnya, menyelidiki dan mengumpulkan data serta informasi terbaru yang berkembang. Serta, menindaklanjuti apabila ditemukannya pelanggaran hukum pidana yang dilakukan pihak tertentu atas kejadian ini.

Wakapolresta Tangerang, AKBP Komarudin mengatakan, tim satgas sudah bergerak sejak pertama kejadian hingga kemarin. Adapun, penyisiran sudah meluas bukan saja terfokus pada industri di sekitar pondok pesantren.

“Permasalahan di Pasar Kemis, ini baru dugaan kita belum buatkan laporan resmi. Karena kita masih lakukan pengecekan di lapangan. Sementara data yang kami terima mengeluhkan adanya aroma tidak sedap atau berbau busuk. Diperkirakan datang dari pabrik di sekitar pondok pesantren,” katanya saat ditemui Tangerang Ekpres, Jumat (6/9).

Secara geografis letak pondok pesantren dengan industri berjarak tidak lebih dari satu kilometer. Namun, kata Komarudin, ada fakta anak-anak yang disekitar pabrik serta warga yang tinggal dipermukiman tersebut tidak timbul gejala serupa. “Sampai hari ini kita menunggu hasil uji laboratorium dari Dinas Lingkungan Hidup. Dari air dan udara, kemudian hasilnya kita cocokan dengan pabrik yang ada disekitar,” lanjutnya.

Komarudin menjelaskan, polisi beserta Pemkab Tangerang berhati-hati dalam mencari sumber dan memberikan keterangan kepada publik. Sebab, dari pantuan di lapangan, antara pondok pesantren dengan pabrik terdapat kawasan permukiman padat penduduk. Namun, warga tidak mengalami gejala yang dialami mual, pusing dan muntah.

“Dalam menyikapi hal tersebut kita turun kelapangan untuk menganalisis sesungguhnya apa yang terjadi bersama dinas kesehatan. Kita sedang telusuri sumbernya darimana. Sedangkan, antara pondok pesantren dengan pabrik terdapat permukiman yang padat penduduk namun tidak mengalami keluhan yang sama. Kita masih belum bisa menyimpulkan,” jelasnya.

Salah satu warga, Rosidi yang mengalami gejala mual, pusing dan muntah  sebelum meninggal dunia masih misteri. Komarudin mengungkapkan, sudah mendatangi rumah almarhum serta meminta keluarga untuk melakukan proses autopsi.

“Kami sangat terbuka, kalau memang keluarga meragukan penyebab kematian almarhum kita siap untuk membongkar dan melakukan autopsi. Namun, istri almarhum tidak mengizinkan,” ungkapnya.

“Sampai saat ini tim kami masih di lapangan bahkan pantuannya sudah meluas keseluruh pabrik yang ada disana. Kita akan dalami apakah ada perkeliruan yang dilakukan pemilik pabrik termasuk adanya hubungan dengan gejala santriwati,” tukasnya. (mg-10/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here