Home OLAHRAGA Jelang Chinese Open 2019, Stabil di Posisi No. 2

Jelang Chinese Open 2019, Stabil di Posisi No. 2

0
SHARE
LIAT: Ganda putra Indonesia Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan masih diharapkan prestasinya di even internasional dan Olimpiade 2020 di Tokyo. FOTO: Net

SUKSES demi sukses yang diraih ganda putra senior Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan membuat banyak pihak yakin akan berpotensi keduanya melewati Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi di peringkat satu dunia Badminton World Federation (BWF). Tapi keduanya memilih untuk menstabilkan posisi mereka saat ini di peringkat kedua.

Oleh karena itu Hendra/Ahsan mematok target hanya menembus posisi semifinal di Chinese Open 2019 yang akan digelar 17-22 September 2019. Sebelumnya pada ajang Kejuaraan Dunia di Basel, Swiss.

Hasil di Swiss membuat Hendra/Ahsan kini menduduki peringkat dua BWF. Saat ini poin mereka mencapai 89,937, sedangkan Kevin/Marcus di posisi pertama dengan 101,353 poin. Dengan selisih 11,416 poin tersebut, bukan tak mungkin The Daddies, julukan fan bulutangkis kepada Hendra/Ahsan, bisa melewati The Minions.

Hal tersebut sebenarnya telah dilakukan keduanya pada peringkat Race to Tokyo atau kualifikasi olimpiade BWF. Hendra Ahsan ada di posisi pertama dengan 53.007 poin unggul jauh dari Kevin/Marcus yang ada di peringkat kelima dengan 40.343.

Menanggapi peluang naik peringkat ke posisi nomor satu, Hendra/Ahsan kompak tak ingin berandai-andai. Mereka menyadari faktor usia dan kecepatan menjadi kelemahan dalam ketatnya persaingan di level dunia.

“Enggak lah (melewati Kevin/Marcus). Sekarang mereka memang menjadi peringkat yang terbaik, tapi saya maunya stabil di peringkat dua saja dulu,” kata Hendra dalam wawancara detikSport, di acara d’Happening.

“Susah (untuk mengalahkan mereka) karena Kevin/Marcus sedang top-topnya dan ada faktor usia kami juga,” dia menambahkan.

Meski tak memiliki ambisi melewati juniornya, Hendra/Ahsan mengaku terbuka dengan pola permainan cepat yang saat ini tengah tren dalam dunia bulutangkis. Meski saat di lapangan mereka tetap menggunakan gaya main sendiri.

“Kami tetap bermain dengan gaya kami karena kalau mau mengikuti sudah enggak nyampe (mengimbangi) kecepatannya,” kata Hendra.

“Pernah coba (ikut) dan memang kami harus mencoba dulu. Jika tidak bisa mengimbangi baru ubah,”Ahsan menimpali.

Selain itu, kata Hendra, pola main bisanya mengikuti kondisi yang terjadi di lapangan dan tergantung dari musuh. Tetapi tidak bisa satu gaya main untuk semua lawan dan jenis lapangan. “Jadi mesti melihat di lapangannya seperti apa. Maksudnya, jika main cepat kemudian mendapat poin banyak ya teruskan,” ujar juara All England 2019 ini. (apw/bio)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here