Home TANGERANG HUB DLHK Belum Terima Hasil Laboratorium Kasus Keracunan Santriwati Ponpes Nurul Himah

DLHK Belum Terima Hasil Laboratorium Kasus Keracunan Santriwati Ponpes Nurul Himah

336
0
SHARE

TIGARAKSA-Penyebab gejala pusing, mual dan muntah 15 santriwati pada Rabu (28/8) dan Senin (2/9) di Pondok Pesantren Nurul Hikmah, Pasar Kemis belum diketahui. Gejala serupa dialami Rosidi pada Rabu (28/8), namun nahas nyawanya tidak terolong. Pada hari itu, Pemkab Tangerang langsung mengambil sampel udara dan air di sekitar ponpes. Namun, hingga kini hasil laboratorium uji air dan udara belum ditermia Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK).

Kepala DLHK Kabupaten Tangerang, Ahmad Taufik enggan berkomentar ketika ditanyai perihal hasil uji laboratorium. Ia langsung menyampaikan kepada awak media untuk menanyai ihwal tersebut kepada Sekretaris DLHK. “Ke Pak Sekdis saja yah langsung,” katanya usai menggelar apel rutin di Lapangan Maulana Yudhanegara, Senin (16/9).

Sekretaris DLHK, Asep Jatnika mengungkapkan, belum menerima hasil uji laboratorium. “Belum ada ke kita berkasnya. Biasanya ada di bidang. Tes untuk sampel ada dua tempat, untuk sampel air di UPT Laboratorium kita dan untuk sampel udara diuji di perusahaan Kehati di Serpong,” katanya. Kata dia, akan dilakukan kajian sebelum berkas tersebut diumumkan kepada warga. Sebab, data hasil uji laboratorium masih membutuhkan analisa. Nantinya, informasi yang disampaikan Pemkab Tangerang utuh dan jelas. “Biasanya nanti ada analisa hasil laboratorium terlebih dahulu. Setelah dianalisa nanti kita buatkan laporan khusus. Etikanya, hasil laboratorium tidak diekspos dahulu sebelum dilakukan analisa,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, tidak ada niat dari dinas untuk menutupi hasil uji laboratorium. Sebab, pemkab pun membutuhkan informasi yang jelas. Saat ini, ia belum bisa memberikan komentar yang lebih detail. Sebab belum menerima berkas hasil uji sampel udara dan air. Dalam analisa, dirinya akan menanyakan kepada petugas dan perusahaan yang melakukan uji laboratorium. Menurutnya, hasil wawancara tersebut dibutuhkan dalam menganalisa penyebab dan dampak terhadap kesehatan warga. Asep mengungkapkan, akan mengambil langkah yang tegas setelah diketahui penyebab dan sumber masalah.

“Kita juga ingin tahu. Tidak ada yang ditutupi oleh kita. Kita tidak berani menjustifikasi dahulu terhadap kasus ini. Pertama kita melihat hasil wawancara dengan survelent kemudian ditunjang dengan analisa. Nanti tindak lanjutnya ketika sudah jelas sumber dan penyebabnya akan kita ambil langkah-langkah konkret sesuai dengan undang-undang,” ujarnya. “Jadi di dalam satu kasus itu ada tiga yang harus disikapi, pertama kita melihat sumber, keduanya kita lihat emisinya kemudian transimsinya. Ketiganya kita lihat tingkat pemaparannya terhadap kesehatan dan lingkungan. Kita melihat dari sisi sumber dan kita akan kaji,” imbuhnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here