Home OLAHRAGA China Open 2019, Sinyal Positif Olimpiade

China Open 2019, Sinyal Positif Olimpiade

0
SHARE
JUARA LAGI: Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon sukses juara di China Open 2019.

GANDA nomor 1 dunia Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo lagi-lagi memenangi duel melawan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan di partai final China Open 2019 kemarin. Ini menjadi sinyal positif buat ganda putra di Olimpiade 2020 di Tokyo.

Sudah empat kali dua pasangan unggulan Indonesia itu menciptakan all Indonesian final. Selama itu pula gelar juara selalu jatuh di tangan Marcus/Kevin. Ini merupakan koleksi gelar kelima bagi ganda putra nomor satu dunia itu.

Di mana dua di antaranya berasal dari turnamen super 1000, yakni Indonesia Open dan China Open. Minions, julukan Marcus/Kevin, gagal membuat hat-trick di All England yang digelar Maret lalu. Kemenangan ini sekaligus mengembalikan titel juara yang lolos dari mereka tahun lalu karena terhenti di babak semifinal.

Sebelumnya Minions telah dua kali menjadi kampiun di China Open yang terjadi 2016 dan 2017. Pasangan Denmark Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen keluar sebagai pemenang pada edisi 2018.

“Yang pasti kami senang dapat gelar di sini. Tahun lalu kami nggak dapat gelar di sini. Kami bersyukur dengan berkat ini,” ungkap Marcus seperti dalam siaran pers PP PBSI.

Akan tetapi hasil yang diperoleh Marcus/Kevin ini agak sedikit berbeda karena mereka harus tampil hingga tiga game saat berhadapan dengan Ahsan/Hendra. Minions menang 21-18, 17-21, 21-15 padahal sepanjang laga Marcus/Kevin memborbardir pertahanan pasangan bapak-bapak tersebut.

“Hari ini (kemarin, Red) mainnya nggak enak banget, apa karena tempo lawan atau karena angin. Di atas itu bolanya seperti goyang, jadi mau dismash nggak enak. Mereka sudah pengalaman banget. Bang Ahsan badannya nggak fit saja bisa masuk final,” kata Marcus.

Sebenarnya Daddies bisa saja mengalahkan Minions dalam tiga game itu. Namun, cedera yang dialami Ahsan tampaknya semakin parah. Kondisi itu terlihat jelas sangat mempengaruhi pergerakannya selama di lapangan. Hendra lebih banyak beraksi untuk mengcover bola-bola cepat yang dilayangkan Marcus/Kevin.

Pasangan unggulan kedua tersebut ingin retired, tetapi terbentur dengan aturan BWF. Jika bermain melawan rekan satu negara dan memutuskan retired, maka pemain yang retired bakal kehilangan poin. Itulah kenapa Ahsan terpaksa bermain sambil menahan sakit.

“Kami bersyukur alhamdulillah bisa sampai final walaupun kondisi saya begini. Sepertinya sakitnya menjalar dari betis ke paha. Memang begini keadaannya. Sehat saja susah lawan mereka, apalagi sakit. Memang Marcus/Kevin pemain bagus,” jelas Ahsan soal kondisinya.

Tidak ingin semakin memperparah kondisi kesehatannya, Ahsan/Hendra memutuskan batal tampil alias withdraw dari Korea Open 2019. Itu demi kebaikan bersama, mengingat sebentar lagi akan ada tour Eropa di Denmark dan Prancis. (jpg/apw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here