Home NASIONAL Banyak Penyusup Dalam Demo Pelajar, Pakai Seragam Abu-abu Tapi Bukan Pelajar

Banyak Penyusup Dalam Demo Pelajar, Pakai Seragam Abu-abu Tapi Bukan Pelajar

0
SHARE
Para pelajar yang demo ke gedung DPR beberapa waktu lalu, diduga disusupi provokator. Kemendikbud meminta kepala daerah dan kepala sekolah untuk mencegah siswa ikut demonstrasi ke Jakarta.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy memastikan, para pengunjuk rasa tidak semuanya benar-benar pelajar atau siswa. Banyak juga diantara para pendemo yang mengenakan pakaian sekolah, tapi bukan siswa. Effendy mendapat laporan dari kepolisian, ada sekitar 50 pendemo mengenakan celana sekolah, tetapi mereka bukan siswa.

Muhadjir menyebutkan, jumlah oknum pendemo yang berseragam celana abu-abu, tapi bukan pelajar ada sekitar 50-an orang. Data tersebut diperolehnya berdasarkan informasi dari pihak kepolisian. “Berdasarkan laporan dari pihak kepolisian sekitar 50-an. Enggak, mereka bukan siswa. Mereka pakai celana abu-abu, pakai baju putih, tapi sebetulnya mereka bukan para siswa,” ungkapnya. Dari bukti penemuan tersebut, Muhadjir menduga akan ada lebih banyak lagi pendemo yang berpakaian sekolah, padahal bukan siswa. Kendati demikian, dia mengaku belum mendapatkan laporan lebih lanjut. “Sampai saat ini kami masih menunggu laporan langsung dari lapangan guna memastikan apakah para pihak yang turun ke jalan adalah para pelajar murni,” imbuhnya.

Muhadjir juga menegaskan, melarang siswa untuk ikut aksi unjuk rasa. Imbauan tersebut disampaikan melalui video dan juga Surat Edaran No 9/2019 tentang pencegahan siswa ikut dalam aksi unjuk rasa. “Anak-anak ini statusnya berdasarkan Undang-undang masih dilindungi dan mereka bukan subjek yang diperbolehkan melakukan unjuk rasa yang sebagaimana mereka yang sudah memasuki usia dewasa,” ujarnya. Mendikbud juga mengingatkan, kepada pemerintah daerah dan sekolah untuk tidak memberikan sanksi kepada para siswa yang terdampak mengikuti aksi unjuk rasa.

“Pendidikan masa main sanksi. Pokoknya kita sadarkan melalui provinsi, gubernur, kabupaten kota bupati, wali kota kemudian kepala dinas masing-masing, pengawas, kepala sekolah guru, orang tua,” tuturnya. “Jadi sekarang ini mekanismenya, kalau ada anak yang tidak hadir di sekolah pada jam pelajaran, sekolah wajib untuk mengklarifikasi ke orang tua di mana anak itu. Kemudian di luar sekolah, sekolah tetap masih bertanggung jawab. Sampai memastikan bahwa anak itu berada di tangan orang tuanya dengan selamat,” pungkasnya.

Sementara itu, polisi meringkus 519 orang terkait demonstrasi berujung kerusuhan di kawasan Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (30/9) kemarin. Ratusan orang itu ditangkap hingga dini hari setelah berpencar usai terjadi kerusuhan. “Sebanyak 519 perusuh yang diamankan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono, Selasa (1/10). Argo mengatakan, penangkapan dilakukan Polres Metro Jakarta Utara, Jakarta Pusat, dan Jakarta Barat. Polrestro Jakarta Utara mengamankan 36 orang.

Kemudian Polrestro Jakarta Pusat mengamankan 11 orang dan Polrestro Jakarta Barat mengamankan 157 orang. Sementara anggota Direktorat Polda Metro Jaya total mengamankan 315 orang. (der/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here