Home HUKUM Sudah Terpantau tapi Tak Bisa Ditangkap, Azam Bisa Sebagai Acuan Densus 88

Sudah Terpantau tapi Tak Bisa Ditangkap, Azam Bisa Sebagai Acuan Densus 88

0
SHARE
Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menunjukkan foto terduga teroris yang berkaitan dengan percobaan pembunuhan terhadap Menkopolhukam Wiranto.

JAKARTA-Meski sudah terpantau, Densus 88 Anti Teror tak menangkap Abu Rara. Ia baru ditangkap setelah menusuk perut Menkopolhukam Wiranto di Pandeglang. Alasan Densus tak menangkap, karena Abu Rara belum melakukan tindak pidana. Ini membuktikan adanya kelemahan dalam assessment. Namun, sebenarnya kondisi itu bisa ditanggulangi dengan mengetahui azam atau kehendak kuat anggota kelompok teroris.

Pengamat Terorisme Al Chaidar menuturkan sebenarnya Polri, khususnya Densus 88 Anti Teror ini memiliki kelemahan dalam membaca niat dari anggota kelompok teror. Selama ini Densus 88 hanya melihat apakah anggota kelompok teroris itu berbaiat atau tidak ke ISIS. ”Padahal, ada mekanisme kelompok teror yang bisa mengetahui niatan dari tiap anggotanya,” ujarnya.

Salah satu mekanisme yang bisa digunakan untuk mengetahui niat dan rencana dari anggota teroris adalah azam, kehendak kuat sebelum sesuatu terjadi. Azam biasanya diucapkan setelah orang tersebut berbaiat. ”Kalau baiat itu menyatakan sumpah, azam ini niatan untuk melakukan sesuatu. Biasanya diucapkan sehari setelah baiat,” jelasnya.

Azam, lanjutnya, bukan merupakan niatan yang diketahui sendiri. Namun, azam itu akan diucapkan di depan pemimpinnya atau Amir. Dalam hal ini amir JAD Bekasi Abu Zee tentu mengetahui azam dari Abu Rara. ”Apakah niatnya pergi ke Suriah, membantu Mujahid Indonesia Timur (MIT) atau melakukan aksi teror secara langsung,” paparnya.

Bahkan, Azam itu diketahui oleh orang-orang dalam kelompok tersebut. Dengan azam ini, maka Densus 88 Anti Teror bisa mendapatkan pertimbangan yang lebih baik dalam melakukan penegakan hukum. ”Apakah terduga teroris itu perlu ditangkap atau tidak, sehingga mencegah terjadinya aksi teror,” ungkapnya.

Azam ini belum begitu dikenal oleh kepolisian. Dia menuturkan bahwa diharapkan kepolisian mulai mendalami soal azam dari setiap anggota kelompok teroris yang tertangkap. ”Dengan begitu diharapkan bisa memperkuat preventive strike,” paparnya.
Walau begitu, azam ini bagi anggota kelompok teroris tidak wajib. Berbeda dengan baiat yang hukumnya menurut mereka wajib. ”Cuma sering kali azam ini diucapkan anggota kelompok teroris,” paparnya kepada Jawa Pos kemarin.

Hingga saat ini, Polri memang telah berupaya keras untuk melumpuhkan sel JAD. Namun, seakan tiada habisnya, anggota JAD terus bermunculan. Bahkan, setelah ISIS runtuh di Suriah dan Iraq. Terkait hal tersebut, Al Chaidar menjelaskan bahwa sebenarnya simpatisan dari ISIS ini masih banyak. ”Karena itulah deradikalisasi perlu terus digalakkan,” terangnya.

Apalagi, salah satu pimpinan kharismatik ISIS, yakni Abu Musab Al Zarkawi pernah membuat pernyataan, jamaah organisasi yang benar itu yang dikejar-kejar pemerintah. ”Pernyataan ini untuk orang yang bersimpati dengan ISIS dianggap mendekati sunah,” tuturnya.

Sebab, Abu Musab Al Zarkawi ini merupakan ulama ISIS. Maka, orang yang bersimpati dengan ISIS ini akan bergabung dengan JAD. ”Organisasi teror yang dilarang pemerintah, ini salah satu penyebab mengapa seakan anggota JAD terus tumbuh. Tentu, masih banyak pernyataan lain dari ulama ISIS,” urainya.

Sementara Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, niat seorang anggota teroris itu sulit untuk diketahui. Apalagi, seperti kasus Abu Rara, diketahui belum ada persiapan untuk melakukan sesuatu. ”Saat di Pandeglang tidak ada persiapan yang mengarah ke aksi teror,” ujarnya.

Namun begitu, Polri akan lebih intens dalam melakukan preventive strike. Selama lebih dari 17 tahun menangani kasus terorisme, Polri memiliki kemampuan yang mumpuni untuk mencegah terjadinya aksi teror. ”Densus 88 Anti Teror tidak perlu diragukan kemampuannya,” tegasnya. (idr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here